LDII DIY Laksanakan Pengamatan Hilal 1 Syawal 1447 H di Bantul, Hilal Belum Terlihat

Tim Rukyatul Hilal DPW LDII DIY mengikuti pengamatan hilal syawal di POB Syech Bela Belu
Tim Rukyatul Hilal DPW LDII DIY mengikuti pengamatan hilal syawal di POB Syech Bela Belu

Bantul (20/3) — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut berpartisipasi dalam kegiatan pengamatan hilal 1 Syawal 1447 H yang dilaksanakan di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu, Bantul, DIY. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY dan diikuti berbagai pihak, di antaranya BMKG, organisasi kemasyarakatan Islam se-DIY, serta kalangan akademisi, pada Kamis (19/3).

Wakil Ketua Bidang Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPW LDII DIY, Ustadz Tri Bangun Bagyo Raharjo, menjelaskan bahwa metode pengamatan hilal yang digunakan memadukan pendekatan tradisional dan modern. Namun, dalam pelaksanaan kali ini, tim menggunakan peralatan optik modern berupa teropong berstandar nasional.

“Metode pengamatan ada yang tradisional, misalnya menggunakan alat sederhana, dan ada juga yang modern dengan bantuan teropong seperti yang kami gunakan saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan hasil pengamatan langsung di lokasi serta penjelasan dari BMKG DIY, hilal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta belum dapat terlihat. Secara astronomis, posisi hilal masih berada pada ketinggian yang sangat rendah.

“Ketinggian hilal di wilayah DIY diperkirakan berada pada kisaran nol hingga 3 derajat, dengan sudut elongasi sekitar 6 derajat. Dengan kondisi tersebut, hilal belum memungkinkan untuk dapat dirukyat,” jelasnya.

Ustadz Tri Bangun menegaskan bahwa peralatan yang digunakan dalam pengamatan telah memenuhi standar nasional, sehingga hasil pengamatan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. “Teropong yang kami gunakan sudah berstandar nasional, dan setelah kami lakukan pengamatan, hilal memang belum terlihat,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Pemberdayaan Zakat, dan Wakaf Kanwil Kemenag DIY, Nurhuda, menyampaikan bahwa posisi hilal di wilayah DIY belum memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) sebagai dasar penentuan awal bulan Hijriah.

“Berdasarkan kriteria MABIMS, posisi hilal belum memenuhi syarat untuk penetapan 1 Syawal. Dengan demikian, bulan Ramadan berpotensi disempurnakan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal diperkirakan jatuh pada Sabtu (21/3),” jelasnya.

Tim Rukyatul Hilal DPW LDII DIY mengikuti pembekalan pada pengamatan hilal syawal di POB Syech Bela Belu.jpeg
Tim Rukyatul Hilal DPW LDII DIY mengikuti pembekalan pada pengamatan hilal syawal di POB Syech Bela Belu

Ia juga menambahkan bahwa hasil pemantauan hilal ini akan dilaporkan sebagai bagian dari bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI. Data rukyat tersebut diperkuat dengan perhitungan hisab sebagai pendekatan ilmiah dalam menentukan posisi bulan.

Menanggapi potensi perbedaan dalam penentuan Hari Raya Idul Fitri, Tri Bangun mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan. “Perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriah merupakan hal yang biasa. Yang terpenting adalah kita tetap saling menghormati dan menjaga persatuan,” pungkasnya.

Melalui partisipasi dalam kegiatan ini, LDII DIY menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam mendukung penetapan kalender Hijriah secara ilmiah sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

Check Also

PC LDII Tarakan Timur

Kolaborasi dengan Pemuda LDII, PC LDII Tarakan Timur Gelar Bazar Pakaian Barokah

Tarakan (13/3). PC LDII Tarakan Timur bersama pemuda LDII menggelar kegiatan Thrifting Barokah atau Bazar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *