
Sleman (20/11) – Tindak lanjut Program Kampung Iklim, pengelolaan sampah PC LDII Kapanewon Turi dan DPD LDII Sleman ikuti studi tiru bersama pengurus Pengelola Sampah Kampung Iklim Sangurejo ke Glagah Malang, Cangkringan, Senin (30/10/2023).
Sebagai organisasi masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, LDII ikut berpartisipasi untuk mensukseskan pengurangan dan pengelolaan sampah melalui berbagai upaya. Termasuk upayanya adalah menjadi salah satu inisiator dan pendorong dalam Program Kampung Iklim (Proklim).
PC LDII Turi menjadi ormas keagamaan yang turut mendorong dan menginisasi deklarasi Proklim di Desa Sangurejo. Sampai saat ini PC LDII Kapanewon Turi terus mendampingi dan berkolaborasi dengan masyarakat Desa Sangurejo untuk terus ikut berpartispasi menjaga lingkungan.
Studi tiru ini secara khusus bertujuan untuk mempelajari bagaimana sistem dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik dan anorganik yang berkelanjutan. Upaya pengelolaan sampah di Glagah Malang dengan sistem sedekah dan hasilnya untuk kemaslahatan masyarakat menjadi pandangan yang baru.
Bukan hanya itu, Dusun Glagah Malang juga sudah menjadi Dusun Proklim yang terbilang maju. Berbagai kelompok masyarakat sudah terbentuk terutama Kelompok Wanita Tani (KWT) yang sangat berperan besar. Kesemangatan ibu-ibu dan dukungan dari bapak-bapak terbilang cukup berjalan harmonis menciptakan berbagai tanaman yang bisa menghasilkan provit.
Selain itu, Glagah Malang juga memiliki pertenakan terpadu dalam satu tempat. Keunggulan tersebut dimanfaatkan dengan pembuatan biogas dari kotoran hewan ternak sapi dan pupuk untuk KWT.
Juwanto, Ketua PC LDII Turi menyampaikan dukungannya untuk langkah yang positif wujudkan Proklim. “Dengan kami melakukan studi tiru di Glagah Malang tentang Proklim, tentu banyak yang bisa didapat, di antaranya pemilahan sampah, pemanfaatan lahan, pemberdayaan biogas dan adanya kontrak sosial dengan masyarakat. Ini merupakan langkah positif yang perlu ditiru,” jelasnya.
Proklim ini merupakan program berbasis dari partisipasi dan inisiasi masyarakat. Karena nanti yang akan mendapat dampak dari perubahan iklim paling pertama adalah lapisan masyarakat, maka harapannya semua masyarakat dapat sadar untuk menjaga lingkungan. Maka dari itu, dengan memiliki komitmen bersama antar elemen dan stakeholder akan terwujud sebuah Proklim yang baik.
Terpisah, Ketua DPW LDII DIY Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU. mengajak para dai untuk peduli lingkungan di wilayah masing-masing. “Kedepannya, saya berharap satu dai bisa mengelola satu kampung Proklim,” ungkapnya saat membuka Pelatihan Dai Proklim pada Sabtu (10/6/2023) lalu.
Sementara itu, dalam upaya pengendalian perubahan iklim melalui Proklim dan ditengah darurat sampah di Provinsi DIY, pada momen Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) LDII DIY rencananya akan diperkuat dengan pembekalan materi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DIY.
DLH DIY direncanakan akan memberikan pembekalan tentang pengelolaan sampah dan lingkungan hidup pada Minggu, 26 November 2023 mendatang. (Tata/Bagus/*)
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta