
Jakarta (16/5) – Keberangkatan kloter pertama jamaah haji Indonesia pada 12 Mei 2024 akan menghadapi musim panas dengan suhu ekstrim antara 45-50 derajat Celcius pada siang hari di kawasan Mekkah. Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto mengimbau para jamaah haji selalu mengikuti anjuran pemerintah Indonesia dan Arab Saudi, agar tidak berdampak pada kesehatan jamaah.
Cuaca panas akan terjadi pada bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, hingga September, ia berpesan kepada jamaah untuk tetap menjaga kesehatan. “Kami mengimbau kepada jamaah haji supaya tidak tergiur minum air es agar terhindar dari radang tenggorokan, membawa bekal serta banyak minum agar terus terhidrasi mengingat cuaca yang tidak ramah bagi kesehatan,” ujar KH Chriswanto.
Selain itu, ia juga mengajak jamaah haji untuk bersyukur dan menata niat semata karena Allah, “Dikarenakan dengan antrean yang luar biasa tidak semua orang bisa secepatnya menunaikan ibadah haji maka banyak hal yang harus disyukuri bagi mereka yang berhasil melaksanakan ibadah haji,” tuturnya.
Meskipun haji masiyan memiliki keutamaan yang lebih dibanding haji berkendara atau raqiban, bagi jamaah yang lanjut usia ataupun fisiknya lemah diimbau agar tidak memilih haji masiyan. Tujuannya, agar tidak menyulitkan diri sendiri dan orang lain yang bisa saja mengganggu kekhusukan atau pelaksanaan ibadah haji.
Menanggapi hal tersebut Pengasuh Ponpes Al Ubaidah Kertosono Habib Ubaidillah Al Hasany mengatakan hal serupa, jika secara dalil memang haji masiyan lebih memiliki keutamaan daripada haji berkendara atau raqiban, “Namun saat itu, Rasulullah berniat menjaga perasaan jamaahnya yang tidak mempunyai kendaraan untuk berhaji. Untuk itu, Baginda Nabi Muhammad memotivasi mereka bahwa barangsiapa yang haji masiyan pahala lebih tinggi daripada yang raqiban,” ujarnya.
Memetik sebuah hadist barangsiapa yang melaksanakan haji masiyan akan mendapatkan pahala 100.000 kebaikan, Habib Ubaid sapaan akrabnya, mengatakan pada prakteknya Nabi, keluarga dan para sahabat yang mampu, sering melaksanakan haji raqiban “Rasulullah sebenarnya hanya untuk menjaga perasaan saja, karena prakteknya Nabi, para Sahabat dan juga keluarganya kebanyakan naik kendaraan,” pungkasnya.
Selain itu, Habib Ubaid memberikan imbauan kepada masyarakat yang melaksanakan haji tahun ini supaya menjaga harta atau biaya yang akan digunakan untuk ibadah haji. Harta harus dijaga dari keharaman yang artinya berhaji dengan menggunakan harta yang halal.
“Selain menjaga kehalalan hartanya, pada saat pelaksanaan ibadah haji atau menjalankan manasik harus sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW, yang terakhir supaya menjaga niatnya. Inilah yang paling sulit karena niat itu ada di dalam hati dan tidak satupun orang yang bisa memengaruhi. Ketika terjadi kesalahan dalam niat maka tidak bisa diingatkan sebab yang tahu dirinya sendiri dan Allah SWT,” imbaunya.
Kini pemerintah memberikan perhatian lebih dalam melayani jamaah haji, baik sarana dan prasarana “Salah satunya tenda-tenda diperbanyak dan fasilitas secara umum lebih baik dan lebih bagus daripada tahun kemarin (representatif),” tutup Habib Ubaid.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta