Hakteknas Menjadi Langkah Awal Lembaga Dakwah untuk Berperan Aktif dalam Revolusi Industri 4.0

Peringatan Hakteknas yang diikuti DPP LDII
Ketua DPP LDII Bidang Teknologi, Informasi, Aplikasi dan Telematika (TIAT) Lukman Abdul Fatah

Yogyakarta (12/8) – Pemerintah telah menetapkan tanggal 10 Agustus sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Peringatan ini menjadi pengingat dan penyemangat bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju secara teknologi.

Menurut Ketua DPP LDII Bidang Teknologi, Informasi, Aplikasi dan Telematika (TIAT) Lukman Abdul Fatah, 10 Agustus menjadi langkah awal untuk menggambarkan pencapaian teknologi dan sebagai rencana awal, dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Lukman mengatakan, Hakteknas menjadi momen untuk sebuah lembaga dakwah dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, untuk menyelaraskan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai keislaman. Lembaga dakwah memiliki peran penting untuk membimbing umat agar teknlogi digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.

“Pendidikan dan penyuluhan mengenai penggunaan teknologi yang etis dan produktif dapat dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan dakwah,” tandas Lukman dalam keterangannya.

Awal Ditetapkannya Hakteknas

Hakteknas ditetapkan setelah PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) atau yang sekarang menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI) berhasil menerbangkan pesawat N250 Gatotkaca pada 10 Agustus 1995.

Dikutip dari situs resmi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), peringatan Hakteknas 2024 mengangkat tema ‘IPTEK dan Inovasi dalam Industri Kreatif di Era Revolusi Industri 4.0’.

Di era modern ini, lembaga dakwah juga dapat mendukung dan mendorong generasi muda untuk terlibat dalam industri kreatif. Menurut Lukman melalui pelatihan dan workshop, lembaga dakwah bisa memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berinovasi dalam berbagai bidang, termasuk seni, budaya, dan media.

“Ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan individu tetapi juga memperkuat identitas budaya Islam dalam era digital,” ujarnya.

Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah, institusi pendidikan, dan industri teknologi adalah langkah strategis untuk mempercepat adopsi teknologi yang bermanfaat. Lembaga dakwah dapat berperan sebagai jembatan antara umat dan dunia teknologi. Lembaga dakwah juga dapat memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.

“Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi alat produksi tetapi juga sarana untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan sosial,” kata Lukman.

Lukman mengatakan, penting bagi lembaga dakwah untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek teknologi dan inovasi. Ini bisa dilakukan dengan mengembangkan konten-konten digital yang edukatif dan inspiratif, serta menciptakan platform yang mempromosikan nilai-nilai moral dan etika Islam.

Oleh karena itu, lembaga dakwah bisa menciptakan ekosistem teknologi yang berperan dalam pengembangan moral dan spiritual masyarakat. Dukungan terhadap inovasi yang etis dan berkelanjutan akan berdampak pada terbentuknya masyarakat yang lebih berkembang dan beradab.

“Terakhir, lembaga dakwah harus tetap adaptif dan responsif terhadap perubahan teknologi. Dengan terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan terkait teknologi terbaru, lembaga dakwah dapat memastikan bahwa mereka tetap relevan dan mampu memberikan panduan yang tepat bagi umat dalam menghadapi tantangan dan peluang di era Revolusi Industri 4.0,” tandasnya.

Check Also

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat memaparkan Materi pada Munas X LDII 2026

Fadli Zon dan Abdul Mu’ti Tekankan Peran Budaya dan Pendidikan di Munas X LDII

Jakarta (9/4) — Pada gelaran Munas X LDII, Fadli Zon Menteri Pendidikan Fadli Zon menjadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *