
Bantul (25/10) — Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (SAKO SPN) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Kemah Santri di Pondok Pesantren Al Barokah, Kranggan, Sanden, Bantul, pada Sabtu–Minggu (25–26 Oktober). Kegiatan ini menjadi momentum pembinaan karakter dan kemandirian bagi para santri pramuka dari berbagai pondok pesantren dan sekolah di bawah naungan DPW LDII DIY. Salah satu sesi menarik tersaji dalam diskusi panel yang menghadirkan narasumber dari Kejati DIY dan Kapolres Bantul.
Kemah santri bukan sekadar aktivitas luar ruangan, melainkan juga media pembelajaran karakter berbasis pengalaman langsung. Di alam terbuka, para santri belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta membangun rasa percaya diri. Mereka juga mempraktikkan nilai-nilai kebersamaan dan kepemimpinan yang menjadi bekal penting saat kelak terjun ke masyarakat. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa pendidikan karakter tidak hanya diperoleh di kelas atau pesantren, tetapi juga melalui interaksi sosial dan penghayatan nilai-nilai kehidupan sehari-hari.
Selama dua hari, para peserta mengikuti beragam agenda, mulai dari kegiatan membuat jamu dan makanan tradisional, keterampilan pramuka, jelajah medan, serta kegiatan keagamaan yang menanamkan nilai-nilai 29 karakter luhur. Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah diskusi panel di hari pertama bersama AKBP Novita Eka Sari, Kapolres Bantul, yang membawakan materi bertajuk “Kejahatan Siber”. Dalam paparannya, AKBP Novita mengingatkan pentingnya kesadaran digital di kalangan santri.
“Sekarang kejahatan sudah banyak bergeser ke dunia maya. Karena itu, santri perlu cermat dan berhati-hati menggunakan ponsel maupun media sosial. Jangan sampai menjadi korban, apalagi pelaku,” pesannya di hadapan peserta. Ia mencontohkan berbagai modus kejahatan siber, seperti phishing, penipuan belanja daring, hingga penyalahgunaan data pribadi.
AKBP Novita menekankan agar masyarakat lebih waspada terhadap tawaran harga murah yang mencurigakan dan selalu bertransaksi melalui marketplace resmi. “Beli di platform terpercaya seperti Shopee atau Lazada, jangan mudah tergiur harga miring di media sosial,” ujarnya. Menurutnya, literasi digital sangat penting bagi generasi muda, termasuk santri, agar mampu memilah informasi dan bertanggung jawab di dunia maya.

Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa teknologi bukanlah hal yang harus dijauhi. “Media digital punya sisi positif yang besar—dari jual beli, belajar, hingga dakwah. Kuncinya ada pada kejujuran dan kebijaksanaan dalam menggunakannya,” ungkapnya ketika menjawab pertanyaan salah satu santri.
Melalui Kemah Santri ini, SAKO SPN DIY berharap para peserta tidak hanya tumbuh sebagai santri yang berilmu dan berakhlak, tetapi juga melek teknologi dan memiliki literasi digital yang baik.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta