Angkat Inovasi Bank Sampah Pesantren, Mahasiswi LDII Raih Juara 2 KTI Hari Santri Kemenag Yogyakarta

Rose Isnaini Fortuna menerima penghargaan dari Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan sebagai Juara 2 Karya Tulis Ilmiah dalam rangka Hari Santri 2026
Rose Isnaini Fortuna menerima penghargaan dari Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan sebagai Juara 2 Karya Tulis Ilmiah dalam rangka Hari Santri 2026

Yogyakarta (22/10) – Rose Isnaini Fortuna, mahasiswi Sarjana Terapan jurusan Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Universitas Gadjah Mada (UGM), meraih Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta. Rose mengangkat inovasi pengelolaan sampah berbasis ekoteologi di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Ar-Royyan Baitul Hamdi Yogyakarta.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam upacara Hari Santri Nasional 2026 di halaman Balai Kota Yogyakarta, Kamis (22/10). Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, bertindak sebagai inspektur upacara. Diikuti sekitar 1.750 peserta dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.

Juara pertama diraih Ary Asy’ari dari PPTQ Muhammadiyah Ibnu Juraimi. Rose Isnaini Fortuna dari PPM Ar-Royyan Baitul Hamdi meraih juara kedua, sedangkan juara ketiga diraih Fifin Permata Sari, dari MBS Siti Chodijah Yogyakarta.

Rose, mahasiswi 19 tahun asal Klaten, bersaing dengan peserta lain melalui karya ilmiah yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan nilai-nilai keislaman. Ia menyebut dengan BAROKAH, Bangun Aksi Ramah Lingkungan melalui Optimalisasi Kelola Sampah.

Karya berjudul “BAROKAH: Optimalisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Ekoteologi melalui Model Bank Sampah Berinsentif di Pondok Pesantren Mahasiswa Ar-Royyan Baitul Hamdi dalam Perspektif Maslahah Mursalah” itu menawarkan rancangan pengelolaan sampah yang lebih terukur dan berkelanjutan.

Rose menjelaskan, gagasan BAROKAH berangkat dari kebiasaan santri PPM di bawah naungan LDII tersebut, yang telah memilah sampah organik, anorganik, hingga barang bekas. Sesuai dengan program Sampah Jadi Jariyah yang terus didorong oleh DPW LDII DIY.

“Dari observasi dan survei, saya menemukan 84,6 persen santri sudah terbiasa memilah sampah. Namun, belum ada pencatatan, insentif, dan pengolahan lanjutan. Salah satu kendalanya adalah lupa, yang disebut oleh 38,5 persen responden,” jelas Rose.

Temuan tersebut mendorongnya merancang sistem bank sampah yang tidak hanya mengandalkan kebiasaan memilah, tetapi juga menyediakan alur pengelolaan yang lebih teratur.

“BAROKAH dirancang melalui tahapan memilah, menyetor sesuai jadwal, menimbang, mencatat, lalu memberikan poin untuk masing-masing griya. Poin tersebut dapat disalurkan melalui program Sedekah Hijau untuk kegiatan pondok dan Liga Griya sebagai bentuk penghargaan bagi griya dengan poin terbanyak,” ungkapnya.

“Sebanyak 84,6 persen responden menyatakan bersedia mengikuti rancangan ini, sedangkan 69,2 persen memilih kas griya sebagai bentuk insentif. Artinya, ada potensi penerapan yang bisa dikembangkan sesuai kebutuhan pesantren,” tambahnya.

Rose menegaskan bahwa proyek ini masih berupa rancangan dan belum diterapkan. Karena itu, manfaat seperti pengurangan sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), tambahan dana kegiatan pondok, dan peningkatan kedisiplinan santri masih perlu diuji melalui penerapan langsung.

Sempat Terkendala Waktu Penyusunan

Rose mengaku harus membagi waktu antara mengaji di PPM, penyusunan KTI, kegiatan perkuliahan, ujian tengah semester (UTS), dan aktivitas lainnya. Perpanjangan tenggat pengumpulan karya memberinya kesempatan untuk menyelesaikan tulisan tersebut.

“Saat itu saya masih sibuk dengan proyek kuliah dan UTS. Alhamdulillah, batas pengumpulan diperpanjang sampai 18 Oktober sehingga saya punya kesempatan menyelesaikannya,” tuturnya.

Dukungan teman-teman di lingkungan pesantren turut membantu proses penyusunan karya.

“Alhamdulillah, teman-teman PPM bersedia mengisi survei dan membantu dokumentasi. Dukungan mereka sangat berarti, sehingga KTI bisa selesai tepat waktu di tengah kesibukan mondok dan kuliah,” katanya.

Bagi Rose, karya tersebut bukan sekadar upaya mengikuti perlombaan, tetapi juga kesempatan menawarkan solusi atas persoalan sampah di lingkungan pesantren. Ia berharap rancangan ini dapat dikembangkan dan diuji agar manfaatnya bisa dirasakan secara nyata.

LDII Kota Yogyakarta Apresiasi Prestasi Rose

Ketua DPD LDII Kota Yogyakarta, Herman Suherman, menyampaikan rasa syukur atas prestasi Rose dalam ajang yang diselenggarakan Kemenag Kota Yogyakarta tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat senang dan bersyukur ada warga LDII yang bisa berprestasi dalam kegiatan yang diselenggarakan Kemenag Kota Yogyakarta. Ini menjadi bukti partisipasi LDII, dan semoga ke depan bisa terus eksis,” ujar Herman.

Ia berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi Rose dan generasi muda LDII lainnya untuk terus mengembangkan potensi serta berkontribusi bagi masyarakat.

“Semoga penghargaan yang diterima bisa menjadi motivasi untuk terus berprestasi ke depannya. Kami berharap semakin banyak generasi muda yang berkarya, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” pungkasnya.

Check Also

Syaquila Ravabia Fakhurriza saat menerima piala dan penghargaan dari Ketua Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Sleman, Mardiansyah

Siswi MDT Al Fattah Kadirojo Raih Juara 1 Pidato Bahasa Indonesia di PORSADIN VII Sleman

Sleman (17/10) – Syaquila Ravabia Fakhurriza, siswi kelas III MDT Al Fattah Kadirojo 2, Purwomartani, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *