Bukan Les, tapi Ngaji yang Ditekankan Ayah hingga Andromeda Tembus ITB

Andromeda ITB
Basuni Yusuf dan istri, orang tua yang mengantar anaknya kuliah di ITB dengan menggunakan bajaj.

Yogyakarta (13/8). Kisah keluarga warga LDII Kota Yogyakarta menunjukkan bagaimana pembinaan agama, kemandirian, dan ridho orang tua dapat berjalan beriringan dengan pendidikan tinggi. Basuni Yusuf, seorang penjual kelapa parut sekaligus pengemudi ojek online, mengantarkan putranya, Andromeda Sufi Anggoro, mewujudkan cita-cita kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Basuni mengatakan, sebagai orang tua, dirinya tidak banyak menekan anak dalam urusan pendidikan formal. Ia justru menekankan agar Andromeda tertib salat dan mengaji sebagai fondasi dalam menjalani pendidikan dan kehidupan.

“Saya memang menekankan pada ngajinya. Yang saya tanyakan itu salatnya sama ngajinya. Kalau ngajinya tertib, nanti urusan yang lain juga tertib,” ujar Basuni.

Basuni telah berjualan kelapa parut di pasar sejak 2000. Untuk menambah penghasilan keluarga, pada 2025 ia juga menjadi pengemudi ojek online menggunakan Bajaj MaxRide, sementara usaha kelapa parut tetap dibantu sang istri.

Di tengah kesibukan bekerja, Basuni memilih memberikan kepercayaan kepada Andromeda untuk menentukan jalan pendidikannya sendiri. Ia meyakini pembiasaan agama sejak dini dapat menjadi bekal bagi anak untuk bertanggung jawab terhadap pilihan dan masa depannya.

“Kalau urusan belajarnya dia memang mandiri. Saya tidak mampu mengajarinya karena pelajaran sekarang berbeda dengan zaman saya. Jadi yang bisa saya kuatkan adalah urusan ngajinya,” katanya.

Keinginan Andromeda melanjutkan pendidikan ke ITB telah tumbuh sejak kelas 1 SMA. Ketertarikannya pada matematika dan astronomi membuat ITB menjadi kampus yang ingin ditujunya, terlebih program studi Astronomi yang diminatinya tersedia di kampus tersebut.

Sebelum berhasil masuk ITB, Andromeda sempat menjalani kuliah di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta selama satu tahun. Keputusan itu diambil untuk menghormati kondisi keluarga dan mempertimbangkan kemampuan ekonomi orang tuanya.

Menurut Basuni, Andromeda sebenarnya ingin langsung berkuliah di Bandung. Namun, ia menyampaikan kondisi biaya hidup yang menjadi pertimbangan sehingga sang anak memilih menjalani kuliah di Yogyakarta terlebih dahulu.

“Dia itu ngelegani orang tua kuliah di Yogyakarta. Jadi selama setahun itu dia menjalankan ridho orang tua,” ujar Basuni.

Setahun kemudian, Andromeda kembali mengejar cita-citanya. Ia mengikuti seleksi masuk ITB secara mandiri hingga akhirnya dinyatakan diterima pada 2026.

Basuni sempat khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan kuliah anaknya di Bandung. Namun, ketika uang kuliah tunggal (UKT) ditetapkan Rp1 juta, ia langsung membayarnya menggunakan uang yang saat itu dimilikinya.

“Waktu UKT-nya keluar sebesar Rp1 juta, kebetulan saya pegang uang Rp1 juta. Langsung saya bayar, saya transfer ke ITB,” tuturnya.

Jalan rezeki kemudian terbuka ketika keluarga Andromeda mendapat tawaran beasiswa dari Paragon. Andromeda memperoleh beasiswa biaya hidup Rp1,6 juta, laptop, serta fasilitas asrama ITB, sedangkan Basuni mendapatkan bantuan Rp5 juta untuk mengganti biaya perjalanan saat mengantar putranya ke Bandung.

Meski mendapat fasilitas asrama ITB, keluarga tersebut tetap memilih PPM sebagai tempat tinggal Andromeda. Pilihan itu menjadi bagian dari ikhtiar keluarga untuk menjaga lingkungan pendidikan dan pembinaan agama yang telah mereka rencanakan.

Andromeda ITB
Basuni bersama bajaj yang digunakan untuk mengantar anaknya ke ITB, Bandung.

Bagi Basuni, perjalanan Andromeda menuju ITB merupakan gambaran bahwa ridho orang tua dan kesabaran dalam menjalani proses dapat membuka jalan yang tidak disangka-sangka. Ia melihat keputusan anaknya menjalani kuliah di Yogyakarta sebagai bentuk menghormati orang tua, sebelum akhirnya kembali mengejar cita-citanya.

“Dia sudah memendam selama setahun keinginannya ke ITB. Mungkin itulah ridho orang tua. Dia melegakan ridho saya, kemudian oleh Allah digabungkan di tahun berikutnya,” katanya.

Selain akademik, Basuni menilai Andromeda memiliki karakter mandiri sejak kecil. Ketika menghadapi persoalan matematika, misalnya, ia terbiasa mencari jawaban sendiri dan tidak akan berhenti sebelum memahami persoalan tersebut.

“Kalau belum dapat jawabannya, tetap diutak-atik sampai bisa. Dia tidak mau menyontek karena ingin benar-benar mengerti kemampuannya,” ujar Basuni.

Kemandirian tersebut juga terlihat dalam pemanfaatan teknologi. Saat mendapatkan telepon genggam, Andromeda mampu mengatur waktu penggunaannya dan memanfaatkan perangkat tersebut untuk belajar serta mencari materi yang menunjang minatnya.

Basuni mengaku tidak pernah secara khusus mengajarkan program 29 Karakter Luhur yang digaungkan LDII kepada anak-anaknya. Menurutnya, nilai-nilai tersebut justru dibangun melalui kebiasaan mengaji, salat, kejujuran, serta pembiasaan hidup tertib di lingkungan keluarga dan LDII.

“Kalau anak saya, kita sebagai orang tua tidak pernah menekankan 29 karakter. Karena dari ngaji kan dia sudah dapat. Yang penting salatnya tertib,” katanya.

Ia berharap keberhasilan Andromeda masuk ITB tidak membuatnya meninggalkan pembinaan agama. Basuni justru berpesan agar putranya tetap menjaga ibadah, menolong agama Allah, dan menjalani pendidikan dengan sungguh-sungguh.

“Kalau kamu menolong agama Allah, pasti ditolong oleh Allah. Kalau nanti menemukan sesuatu yang tidak sesuai keinginanmu, berarti itu qadar Allah. Terima saja, jangan kecewa,” pesan Basuni.

Kisah warga LDII Kota Yogyakarta tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan tinggi tidak harus dipertentangkan dengan pembinaan agama. Bagi keluarga Basuni, keberhasilan akademik justru diharapkan tumbuh bersama karakter, kemandirian, dan ketertiban ibadah yang terus dijaga.

Check Also

Sambut HUT ke-81 RI, LDII dan Senkom Nglipar Wujudkan Semangat Gotong Royong melalui Kerja Bersama Bakti untuk Negeri

Gunungkidul (2/8). Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pimpinan Cabang (PC) LDII …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *