
Yogyakarta (19/3) – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Daerah Istimewa Yogyakarta, Atus Syahbudin, mengajak umat Islam memaknai Hari Raya Idulfitri sebagai momentum awal untuk meningkatkan kualitas ibadah, bukan sekadar penutup rangkaian Ramadan. Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara dengan wartawan Kumparan, Gigih Imanadi Darma, di penghujung Ramadan 1447 H.
Menurutnya, Idulfitri merupakan wujud rasa syukur setelah umat Islam menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menegaskan pentingnya menyempurnakan ibadah dan mengagungkan Allah sebagai bentuk syukur.
“Makna utama Idulfitri adalah ungkapan syukur. Namun yang tak kalah penting, mari kita jadikan Idulfitri sebagai garis start, bukan garis finish,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Ramadan merupakan madrasah atau tempat pelatihan bagi umat Islam untuk membentuk karakter yang lebih baik, seperti kesabaran, kedisiplinan, dan empati. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut seharusnya terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadan berakhir.
“Atas dasar itu, hari raya bukanlah akhir di mana kita kembali bebas melakukan keburukan, tetapi menjadi awal untuk mempraktikkan hasil latihan selama Ramadan,” tambahnya.
Dosen Fakultas Kehutanan UGM ini juga menekankan pentingnya istiqomah dalam beramal saleh sebagai tanda diterimanya ibadah puasa. Ia mengingatkan agar kebiasaan baik selama Ramadan tidak ditinggalkan.
“Jangan biarkan Al-Qur’an kembali berdebu dan masjid kembali sepi. Salah satu amalan yang bisa dilanjutkan adalah puasa sunah enam hari di bulan Syawal,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam untuk meneladani cara Nabi Muhammad SAW dalam merayakan Idulfitri yang penuh kesederhanaan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak berangkat salat Id sebelum memakan beberapa butir kurma.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa esensi Lebaran bukanlah kemewahan, melainkan keberkahan dan kebersahajaan. “Perayaan hari raya seyogyanya dilakukan secara sederhana, tidak berlebihan, dan tetap menjaga nilai-nilai spiritual,” ujarnya.
Selain itu, Atus juga mengingatkan agar umat Islam mampu mengendalikan diri setelah Ramadan, termasuk dalam hal konsumsi dan emosi. “Selama Ramadan kita mampu menahan yang halal seperti makan dan minum. Maka setelah lebaran, seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari hal-hal yang diharamkan atau makruh, termasuk sifat konsumtif dan pemborosan,” ungkapnya.
Aktifis pelestarian lingkungan dan perubahan iklim ini juga menegaskan bahwa silaturahim saat Lebaran hendaknya tidak hanya menjadi formalitas. “Jangan hanya menjadi seremoni atau ajang pamer. Jadikan momen ini untuk benar-benar membersihkan hati, menyambung persaudaraan, serta meningkatkan kepedulian sosial,” tuturnya.
Sebagai penutup, Atus mengajak umat Islam untuk memaknai “pakaian baru” Lebaran secara lebih mendalam. “Pakaian terbaik yang dibawa dari Ramadan adalah pakaian ketakwaan (libasut taqwa), bukan sekadar pakaian yang dikenakan secara lahiriah,” pungkasnya.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta