Menuju Indonesia Emas, LDII Dorong Akhlak Mulia, Alim-Fakih, dan Kemandirian Santri

Sekretaris DPW LDII DIY, Gathot Wardoyo saat memberikan materi kepada PC LDII Depok secara luring dan daring. Foto: Lines
Sekretaris DPW LDII DIY, Gathot Wardoyo saat memberikan materi kepada PC LDII Depok secara luring dan daring. Foto: Lines

Jakarta (22/10) – Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk meneguhkan peran santri dalam pembangunan bangsa. Ketua DPP LDII, Dwi Pramono, menegaskan santri perlu memiliki pemahaman agama yang kuat, karakter luhur, dan kemandirian agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Upaya tersebut juga perlu didukung oleh keluarga yang harmonis sebagai fondasi ketahanan bangsa.

“Sesuai tema tahun ini, Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, santri diharapkan tidak hanya menjadi generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berwawasan kebangsaan, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Dwi menjelaskan, LDII membina generasi penerus melalui konsep Tri Sukses Generus, yaitu berakhlakul karimah, alim-fakih, dan mandiri. Ketiga aspek tersebut saling melengkapi. Santri perlu memiliki pemahaman agama yang baik, berperilaku luhur, serta mampu mengembangkan potensi diri dan memberikan manfaat bagi orang lain.

“Kami memandang kontribusi santri pada masa sekarang tidak hanya diwujudkan melalui dakwah dan pengabdian keagamaan, tetapi juga melalui pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan sosial, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Koordinator Bidang Pendidikan dan Dakwah DPP LDII tersebut.

Menurutnya, pembinaan generasi penerus diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang profesional religius, yakni generasi yang memiliki pemahaman agama, berakhlak mulia, berilmu, dan kompeten dalam berbagai bidang kehidupan.

Dwi menyebut ada tiga fokus utama dalam pembinaan tersebut. Pertama, pembentukan akhlakul karimah melalui pembinaan 29 Karakter Luhur. Nilai-nilai yang ditanamkan meliputi kejujuran, amanah, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kerukunan, kekompakan, dan kerja sama yang baik. Pembentukan karakter membutuhkan keteladanan, pembiasaan yang konsisten, serta dukungan lingkungan pendidikan dan keluarga.

Kedua, penguatan ilmu agama atau alim-fakih. Santri dibina agar memahami dan mengamalkan ajaran Islam berdasarkan Al Quran dan Al Hadis. Pemahaman agama harus tercermin dalam ibadah, sikap, dan perilaku sehari-hari.

Ketiga, penguatan kemandirian. Santri perlu dibekali keterampilan hidup, etos kerja, kemampuan berwirausaha, serta kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendidikan agama juga perlu berjalan beriringan dengan pendidikan formal, keterampilan praktis, dan penguasaan teknologi.

Melalui pendekatan tersebut, Dwi berharap pesantren tidak hanya melahirkan santri yang kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kecakapan hidup dan kesiapan untuk berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, serta bangsa.

“LDII mendorong santri agar adaptif menghadapi era digital dan dinamika sosial ekonomi tanpa kehilangan jati diri agama. Melalui jihad digital, santri diajak memanfaatkan teknologi untuk dakwah yang menyejukkan, membina kewirausahaan, serta menguasai keterampilan masa depan. Dengan begitu, santri menjadi generasi religius, mandiri, dan berdaya saing dalam mengawal Indonesia Emas 2045,” tuturnya.

Senada, Sekretaris DPW LDII DIY, Gathot Wardoyo, menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga ketahanan bangsa. Saat memberikan arahan kepada warga PC LDII Depok di Masjid Al Anhar, Condongcatur, Depok, Sleman, ia mengingatkan bahwa kontribusi untuk negeri juga dimulai dari lingkungan keluarga.

“Stabilitas bangsa itu fondasinya adalah keluarga. Kalau keluarganya kuat, harmonis, sakinah mawaddah warahmah barokah, maka lingkungannya akan kuat, bangsanya juga kuat,” ujar Gathot.

Ia juga mengajak warga LDII menjadikan momentum Hari Santri Nasional sebagai pengingat untuk memperkuat komunikasi dan keharmonisan keluarga.

“Tantangan di era digital seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pengaruh negatif media sosial berawal dari rapuhnya komunikasi dalam keluarga,” tegasnya. Menurutnya, keluarga yang kokoh berperan penting dalam membentuk generasi yang berakhlak baik dan mampu menghadapi tantangan era digital.

Check Also

Rose Isnaini Fortuna menerima penghargaan dari Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan sebagai Juara 2 Karya Tulis Ilmiah dalam rangka Hari Santri 2026

Angkat Inovasi Bank Sampah Pesantren, Mahasiswi LDII Raih Juara 2 KTI Hari Santri Kemenag Yogyakarta

Yogyakarta (22/10) – Rose Isnaini Fortuna, mahasiswi Sarjana Terapan jurusan Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Universitas …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *