Pelatihan Rukyatul Hilal LDII-DPD RI DIY, Tekankan Pentingnya Ilmu Falakiyah dan Fiqih

Pelatihan Rukyatul Hilal LDII
Pemateri pelatihan rukyatul hilal, Muntoha dari Lembaga Falakiyah NU.

Yogyakarta (10/2). Sinergi antara DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan DPD RI DIY dalam menyelenggarakan Pelatihan Rukyatul Hilal di Gedung DPD RI DIY menjadi ruang penguatan keilmuan falakiyah bagi para perwakilan mubaligh PC dan pondok pesantren LDII se-DIY, Sabtu (7/2/2026). Kegiatan ini diarahkan untuk membekali peserta dengan pemahaman ilmiah dan syar’i dalam menentukan awal bulan Ramadan, sehingga umat Islam dapat melaksanakan ibadah puasa sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Materi utama pelatihan disampaikan oleh Muntoha, perwakilan dari Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU). Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa rukyatul hilal bukan sekadar aktivitas melihat bulan sabit, melainkan proses ilmiah yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang astronomi, khususnya pergerakan bulan dan matahari.

Ia meluruskan pemahaman keliru yang masih berkembang di masyarakat, bahwa hilal bukanlah objek yang “terbit lalu naik ke atas”, melainkan bergerak mengikuti rotasi bumi dan peredaran bulan. “Banyak yang mengira hilal itu muncul lalu naik tinggi. Padahal, secara astronomi hilal semakin lama justru semakin terbenam karena rotasi bumi ke arah barat dan pergerakan bulan ke arah timur. Di sinilah pentingnya ilmu falakiyah agar pengamatan tidak hanya mengandalkan perkiraan visual semata,” jelas Muntoha.

Selain penguasaan astronomi, Muntoha menekankan bahwa rukyatul hilal harus berlandaskan fiqih. Menurutnya, tanpa pijakan fiqih yang kuat, hasil rukyat dapat kehilangan legitimasi syar’i. “Hingga saat ini, jumhur ulama masih menetapkan rukyat sebagai metode utama penentuan awal Ramadan, meskipun hisab tetap digunakan sebagai alat bantu perhitungan dan prediksi,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, Muntoha juga menggarisbawahi bahwa rukyatul hilal pada hakikatnya tidak harus mahal atau bergantung pada peralatan canggih. Dengan pemahaman ilmu yang benar, pengalaman lapangan, serta ketelitian dalam pengamatan, rukyat dapat dilakukan secara sederhana namun tetap akurat.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya jam terbang pengamatan serta sikap jujur dan amanah bagi setiap perukyat. “Menjadi perukyat itu bukan hanya soal melihat, tetapi juga soal tanggung jawab moral. Kesaksian rukyat menyangkut ibadah jutaan umat, sehingga kejujuran dan kehati-hatian menjadi kunci utama,” tegasnya.

Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memperkaya khazanah keilmuan para mubaligh LDII, khususnya di bidang falakiyah. Selain menyerap ilmu teoritis, peserta juga mendapatkan bekal pengalaman praktis dari para narasumber yang telah lama berkecimpung dalam pengamatan hilal.

Ia menambahkan bahwa penguasaan ilmu agama, termasuk falakiyah, merupakan fondasi agar setiap amal ibadah dilaksanakan sesuai dengan perintah Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW. “Dengan ilmu, kehati-hatian, dan kebersamaan, kita berharap penyambutan Ramadan dapat berlangsung dengan tenang, tertib, dan penuh keberkahan,” ujarnya.

DPW LDII DIY berharap, melalui pelatihan ini, setiap DPD LDII di wilayah DIY dapat memiliki kader yang kompeten dalam rukyatul hilal, sehingga mampu berkontribusi aktif dalam penentuan awal Ramadan secara ilmiah dan fiqihnya.

Check Also

Rakorwil LDII DIY

LDII DIY Ajak Maknai Idulfitri sebagai Garis Start, Bukan Garis Finish

Yogyakarta (19/3) – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Daerah Istimewa Yogyakarta, Atus Syahbudin, mengajak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *