
Jakarta (8/4) — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyampaikan pandangan umum terhadap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Ketua Umum DPP LDII masa bakti 2021–2026 dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) X LDII di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Jakarta Timur.
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, menyampaikan pandangan tersebut di hadapan peserta Munas. Ia membuka dengan apresiasi atas kinerja DPP LDII selama periode kepengurusan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas amal shalih Bapak Ketua Umum. Kami bersyukur dan bangga menjadi bagian dari sejarah LDII, serta menerima laporan pertanggungjawaban yang telah disampaikan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kelancaran, dan kebarokahan,” ungkap Atus.
Dosen Fakultas Kehutanan UGM ini menegaskan bahwa ke depan LDII harus terus meningkat. “Kami mendorong pengurus DPP LDII selanjutnya untuk naik kelas. Tomorrow must be better. Esok harus lebih baik dari hari ini,” tegasnya.
Masukan dari LDII DIY
Ia menyampaikan beberapa masukan strategis. Pertama, pentingnya penguatan sumber daya manusia di bidang pendidikan. “Kami memandang perlu adanya Asosiasi Dosen LDII dan Asosiasi Guru LDII. Seperti Forum Komunikasi Kesehatan Islam (FKKI), yang manfaatnya sudah kita rasakan,” ujarnya.
Kedua, terkait bidang keagamaan. “Kami mengusulkan adanya lembaga atau badan hisab rukyat tingkat nasional,” papar Atus.
Ketiga, Atus menyoroti tata kelola organisasi, “Standardisasi organisasi perlu diperkuat. Monitoring dan evaluasi harus berjalan. Penjaminan mutu alangkah baiknya sampai ke akar rumput, di Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Anak Cabang (PAC).”
Menurutnya, budaya kerja berkualitas harus dimulai dari pusat. “Budaya DPP harus menular hingga ke bawah secara terstruktur,” tambahnya.
Selanjutnya, ia menyoroti isu lingkungan hidup. “Program LISDAL harus semakin membumi. Tidak hanya di tingkat organisasi, tetapi sampai ke rumah tangga warga LDII,” ujarnya.
Ia kemudian merinci langkah konkret yang diharapkan. “Setiap sekolah LDII harus menjadi sekolah Adiwiyata. Setiap pondok pesantren menjadi Eco Pesantren masjid menjadi Eco Mosque. Dan setiap kompleks LDII bisa menjadi rintisan Program Kampung Iklim,” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung pentingnya kepemimpinan ke depan. “Kita membutuhkan pemimpin yang visioner. Sekaligus praktisi. Berpengalaman di bidang energi terbarukan, pendidikan, dan berwawasan internasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Atus menekankan pentingnya regenerasi organisasi. “Kita harus menyiapkan generasi muda LDII. Mereka yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. “Kepemimpinan dibentuk melalui proses panjang. Berjenjang, bukan sekadar hadiah,” tegasnya.
Pandangan umum tersebut disampaikan sebagai bentuk kontribusi DPW LDII DIY dalam menyukseskan Munas X. Diharapkan, seluruh masukan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan, sehingga LDII semakin berkontribusi bagi umat dan bangsa.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta
Lanjutkan, semoga Aman Slamet lancar Barokah