Kyai Peduli Sampah dan Sampah Jadi Jariyah, Ikhtiar LDII DIY Menjaga Kelestarian Lingkungan

Sedekah Sampah Akbar LDII
Ketua DPW LDII DIY Atus Syahbudin (baju hijau) didampingi Lurah Murtigading Bambang Triyanto (tengah) pada kegiatan Sedekah Sampah Akbar di Ponpes Al-Barokah Kranggan, Murtigading, Sanden, Bantul, Minggu (17/9/2023).

Yogyakarta (5/6). Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sejalan dengan tema tersebut, LDII terus mendorong implementasi karakter luhur melalui berbagai gerakan nyata, termasuk pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup DPP LDII, Siham Afatta, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan sistem pengelolaan, tetapi juga pola konsumsi masyarakat yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap hari.

“Persoalan sampah tidak hanya terletak pada sistem pengelolaan, tetapi juga pada pola konsumsi masyarakat, yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap harinya,” ujarnya.

Menurut Siham, karakter mujhid muzhid yang menjadi bagian dari 29 karakter luhur LDII mengajarkan kesungguhan sekaligus hidup hemat. Dalam konteks lingkungan, nilai tersebut diwujudkan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghindari pemborosan, serta membiasakan pola konsumsi yang lebih bijak. “Semakin sedikit sampah yang dihasilkan dari sumbernya, semakin ringan beban lingkungan,” katanya.

Pengelolaan Sampah LDII
Ilustrasi keranjang pilah sampah.

Senada, Ketua DPP LDII Dicky Budiman, mengingatkan bahwa persoalan sampah saat ini bukan sekadar masalah kebersihan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, hingga ketahanan bangsa.

Ahli Epidemiologi dan Lingkungan Griffith University Australia ini menjelaskan bahwa sebagian besar dari puluhan juta ton sampah yang dihasilkan masyarakat Indonesia setiap tahun masih berakhir di tempat pemrosesan akhir, sungai, laut, bahkan dibakar secara terbuka yang berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan.

Karena itu, menurut Dicky, solusi paling efektif adalah mengurangi timbulan sampah sejak dari rumah tangga, sekolah, tempat ibadah, hingga lingkungan masyarakat melalui penguatan budaya memilah dan mengelola sampah dari sumbernya.

Kyai Peduli Sampah dan Sampah Jadi Jariyah di Yogyakarta

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, semangat tersebut telah diwujudkan melalui berbagai program lingkungan yang digagas DPW LDII DIY. Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, mengatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari implementasi nilai keagamaan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, LDII DIY selama ini mengembangkan beberapa program lingkungan, di antaranya Kyai Peduli Sampah dan Sampah Jadi Jariyah. Program tersebut berupaya membangun kesadaran lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat berbasis masjid dan majelis taklim.

Program Kyai Peduli Sampah lahir dari kesadaran bahwa persoalan lingkungan tidak bisa hanya diselesaikan pemerintah. Tokoh agama, pengurus masjid, dan masyarakat harus ikut menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.

Atus menjelaskan, melalui program tersebut warga didorong untuk membiasakan pemilahan sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengembangkan bank sampah, serta memanfaatkan hasil pengelolaan sampah untuk kegiatan sosial dan kemaslahatan umat.

Sementara melalui gerakan Sampah Jadi Jariyah, masyarakat diajak melihat sampah bukan semata-mata sebagai limbah, tetapi sebagai sumber manfaat apabila dikelola dengan baik. Hasil pengumpulan dan pengelolaan sampah bernilai ekonomis dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial, pendidikan, maupun kepentingan ibadah.

“Ketika sampah dikelola dengan benar lalu hasilnya digunakan untuk kemaslahatan umat, maka manfaatnya akan terus mengalir. Inilah yang kami maksud dengan sampah menjadi jariyah,” kata Atus.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah yang baik juga sejalan dengan ajaran Islam mengenai kebersihan. Karena itu, LDII DIY terus mendorong warga untuk menjadikan kebersihan sebagai budaya hidup, baik di lingkungan rumah, tempat ibadah, maupun fasilitas umum.

Menurut Atus, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan secara individual. Dibutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat agar tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, LDII DIY mengajak masyarakat untuk mulai melakukan langkah-langkah sederhana dari lingkungan terdekat, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengikuti kegiatan bank sampah, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi mendatang. Karena itu mari bersama-sama menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai budaya dan amal jariyah yang terus memberikan manfaat,” pungkas Atus.

Check Also

LDII Ngemplak

LDII Ngemplak Sosialisasikan Prosedur Nikah dan Peran Orang Tua untuk Wujudkan Keluarga Harmonis

Sleman (25/5). PC LDII Kapanewon Ngemplak menggelar sosialisasi bertajuk “Sosialisasi Prosedur Pernikahan, Usia Nikah, dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *