
Gunungkidul (7/6). Upaya membangun generasi penerus (generus) yang profesional, religius, dan berkarakter luhur terus dilakukan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Gunungkidul. Melalui Kelompok Kerja (Pokja) Bagian Pendidikan Umum dan Pelatihan, LDII menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Memahami Perkembangan Psikologi Anak dan Remaja” pada Minggu (7/6).
Kegiatan yang berlangsung diikuti 46 mubaligh dan mubalighot dari delapan kapanewon, yaitu Wonosari, Gedangsari, Patuk, Playen, Paliyan, Panggang, Saptosari, dan Tanjungsari. FGD tersebut menjadi bagian dari delapan klaster pengabdian LDII, khususnya di bidang pendidikan yang berfokus pada penguatan karakter generus, pendidikan anak usia dini (PAUD), serta pengelolaan pondok pesantren.
Ketua Pokja, Taufik Hidayat, saat membuka kegiatan menegaskan pentingnya pemahaman psikologi dalam proses pembinaan generasi muda. Menurutnya, para mubaligh dan mubalighot tidak hanya berperan menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga perlu memahami karakter dan perkembangan peserta didik agar proses pembinaan berjalan lebih efektif.
“Pembinaan generasi penerus membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Karena itu, pemahaman psikologi menjadi bekal penting bagi para pembina agar mampu mendampingi generasi muda secara tepat,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, narasumber Ismiyati memaparkan bahwa setiap fase pertumbuhan anak dan remaja memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan masing-masing agar proses pembinaan dapat diterima dengan baik.
“Pemahaman terhadap perkembangan psikologi anak dan remaja menjadi bekal penting dalam mendampingi mereka menghadapi tantangan zaman. Dengan pendekatan yang tepat, pembinaan tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga karakter dan akhlak yang baik,” ujar Ismiyati.
Diskusi berlangsung interaktif. Para peserta saling berbagi pengalaman terkait pembinaan generasi muda di wilayah masing-masing. Berbagai persoalan dibahas, mulai dari tantangan komunikasi dengan remaja, pengaruh perkembangan teknologi digital, hingga strategi menanamkan nilai-nilai agama dan karakter di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Melalui forum tersebut, para mubaligh dan mubalighot diajak merumuskan langkah-langkah untuk memperkuat pola pembinaan generasi penerus. Hasil diskusi diharapkan menjadi bahan rekomendasi bersama dalam mengembangkan metode pembinaan yang lebih adaptif, relevan, dan sesuai dengan perkembangan psikologi anak maupun remaja.
Ketua DPD LDII Gunungkidul, Wahono Budi Rustanto, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kualitas generasi penerus menjadi salah satu fokus pembinaan LDII dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.
“Generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, para pembina perlu terus meningkatkan kapasitas dan pemahamannya agar mampu mendampingi generasi penerus dengan pendekatan yang tepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembinaan generasi muda tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan sinergi antara keluarga, pendidik, dan pembina keagamaan.
“Ketika keluarga, guru, dan pembina memiliki pemahaman yang sama dalam mendidik anak, insya Allah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, mandiri, profesional, dan religius,” pungkasnya.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta