
Sleman (26/7). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat gerakan ketahanan lingkungan berbasis masyarakat melalui pengelolaan sampah, pengembangan Kampung Iklim (ProKlim), konservasi air, hingga pemanfaatan energi baru terbarukan. Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi LDII DIY dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan terwujudnya Pancamulia DIY.
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, mengatakan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian penting dari program pengabdian LDII untuk bangsa. Menurutnya, ketahanan lingkungan perlu dibangun melalui keterlibatan masyarakat sekaligus diperkuat dengan edukasi dan pemberdayaan di tingkat komunitas.
“Komitmen lingkungan juga diwujudkan melalui pengembangan dan pendampingan intensif dua lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim). Padukuhan Sangurejo, Sleman, menjadi salah satu contoh keberhasilan program tersebut. Sangurejo sebelumnya meraih ProKlim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2024, kemudian mendapat penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY,” ujar Atus.
Menurut Atus, gerakan lingkungan LDII DIY tidak berhenti pada pengelolaan sampah, tetapi dikembangkan menjadi gerakan berbasis komunitas yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Sejumlah program yang dijalankan antara lain Gerakan Kyai Peduli Sampah, Sedekah Sampah Akbar, Sampah Jadi Jariyah, Jugangan Ing Omah, dan Jugangan Ing Masjid.
Sejak 2023, LDII DIY telah menginisiasi 313 Kelompok Sedekah Sampah Berbasis Masjid. Melalui gerakan tersebut, masyarakat, pondok pesantren, dan tempat ibadah didorong untuk mengelola sampah agar memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat sosial.
Upaya pengelolaan lingkungan juga dilakukan melalui pembuatan biopori serta Jugangan Ing Omah dan Jugangan Ing Masjid yang mendorong masyarakat mengolah sampah organik menjadi kompos sekaligus meningkatkan daya serap air tanah.
Selain Padukuhan Sangurejo, Padukuhan Kembang, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, juga menjadi lokasi pengembangan ProKlim. Padukuhan tersebut meraih Sertifikat ProKlim Utama 2025 berkat berbagai program pemberdayaan masyarakat dan edukasi pelestarian lingkungan.
Di Kabupaten Gunungkidul, upaya memperkuat ketahanan lingkungan berjalan beriringan dengan ketahanan pangan. Warga LDII mengembangkan budidaya lele tanpa bau amis menggunakan pakan Ramuan Barokah 354 berbahan empon-empon.
Program lingkungan tersebut juga diperkuat melalui riset dan kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY dalam pembinaan ProKlim, penghijauan, dan edukasi perilaku ramah lingkungan.
Atus mengatakan penguatan ketahanan lingkungan juga diarahkan pada pemanfaatan energi bersih. LDII DIY mengembangkan pemasangan lampu tenaga surya di Kampung ProKlim Sangurejo. Selain itu, upaya konservasi air dilakukan melalui pemasangan bak penampung untuk memanen air hujan dari atap Gedung Serbaguna Mantrijeron.
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa yang dijalankan DPW LDII DIY selama periode 2021-2026. Program ketahanan pangan dan lingkungan menjadi salah satu bidang yang diintegrasikan dengan pendidikan, teknologi digital, kesehatan, ekonomi syariah, hingga pembinaan generasi muda.
Melalui rangkaian program tersebut, LDII DIY menempatkan ketahanan lingkungan sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Gerakan pengelolaan sampah, ProKlim, konservasi air, ketahanan pangan, dan pemanfaatan energi terbarukan diharapkan dapat memperkuat kontribusi masyarakat dalam mendukung terwujudnya Pancamulia DIY, khususnya pada aspek lingkungan, sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan daerah.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta