
Sleman (26/10). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membekali para dai dan mubaligh untuk menghadapi tantangan dakwah di era digital. Kegiatan bertajuk “Pembekalan Dai LDII se-DIY di Era Digital Modern” tersebut digelar secara hibrida pada Minggu (25/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan melalui Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) itu dipusatkan di Masjid Al Fattah, Kadirojo 2, Purwomartani, Kalasan, Sleman. Peserta berasal dari jajaran dai dan mubaligh DPD LDII kabupaten/kota se-DIY.
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, menekankan pentingnya penguatan legalitas lembaga pendidikan keagamaan di lingkungan LDII. Menurutnya, Kelompok Belajar Mengajar (KBM) perlu didorong menjadi Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) agar memiliki legalitas yang kuat.
“KBM yang belum menjadi MDT perlu segera mengurus legalitasnya karena ini sudah program kerja sejak lima tahun lalu,” ujarnya.
Atus menjelaskan, legalitas MDT memberikan sejumlah manfaat. Di antaranya peluang peningkatan kesejahteraan guru, kesempatan memperoleh beasiswa pendidikan S1 bagi guru yang terdaftar di EMIS, serta kemudahan pengurusan izin dan bantuan bagi pondok pesantren.
Selain penguatan pendidikan keagamaan, ia mendorong pengembangan konsep green mosque atau masjid hijau. Masjid diharapkan tidak hanya menjadi pusat ibadah dan dakwah, tetapi juga memiliki lingkungan yang bersih, asri, dan nyaman. Ia juga mengingatkan pentingnya regenerasi kepengurusan hingga tingkat PC dan PAC.
“Yang bertahan itu bukan yang paling besar atau paling sepuh. Dinosaurus badannya besar, tetapi tidak bisa bertahan. Yang mampu bertahan adalah yang bisa beradaptasi, meskipun kecil dan sedikit, tetapi mau maju,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPP LDII Koordinator Bidang Pendidikan dan Dakwah, Dwi Pramono, mengingatkan para dai untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana memperluas jangkauan dakwah. Menurutnya, media sosial memiliki pengaruh besar yang perlu disikapi secara bijak.
“Media sosial itu pisau bermata dua. Kalau kita gunakan dengan sisi negatif, hasilnya jelek. Namun, jika diarahkan untuk hal positif, hasilnya juga akan baik,” jelasnya.
Dwi juga mendorong para dai meningkatkan kompetensi melalui pendidikan tinggi dan memperluas jejaring. Ia berpesan agar para juru dakwah menjalankan amanah dengan ikhlas serta tidak merasa ragu dalam mengembangkan kemampuan diri.
“Luruskan niat. Ketika niat kita benar dan tulus, pertolongan Allah akan hadir dari berbagai arah disertai curahan ilham kebaikan. Pertolongan Allah itu amat luas bentuknya, bukan sekadar materi, melainkan nikmat sehat, ketenangan batin, kelapangan waktu untuk beribadah, hingga urusan keluarga dan rezeki yang senantiasa ditata oleh-Nya,” tuturnya.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Ketua Biro PKD DPW LDII DIY, Tri Bangun Bagya Rahardja, menegaskan kesiapan jajarannya mendampingi PKD di tingkat kabupaten/kota dalam mendorong legalitas MDT.
“Kami memberikan arahan dan masukan kepada PKD di jajaran DPD kabupaten/kota untuk turut menyukseskan program menyuburkan MDT di lingkungan kita. Minimal mendukung KBM yang ada agar bisa menjadi MDT secara legal dan sah. Jika menemui kesulitan, bisa berkonsultasi dengan kami di DPW,” ujarnya.
Tri Bangun juga mengajak para dai muda di tingkat PAC, PC, hingga DPD untuk terus meningkatkan kemampuan memanfaatkan media sosial sebagai sarana pengembangan dan pelestarian ajaran Al Quran dan Al Hadist. Sementara dalam pengembangan green mosque, ia berharap budaya menjaga kebersihan dan merawat tanaman dapat ditanamkan sejak dini kepada para santri MDT.
Melalui pembekalan tersebut, DPW LDII DIY berharap para dai dan mubaligh semakin siap menghadapi perkembangan teknologi. Penguatan kompetensi dakwah, legalitas pendidikan keagamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan berjalan beriringan dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang profesional religius.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta