DPP LDII Ajak Dai di DIY Tingkatkan Kompetensi dan Perluas Jaringan Dakwah

LDII DIY
Ketua DPP LDII Dwi Pramono memberikan pembekalan kepada dai LDII se-DIY agar menjadi dai yang bermartabat di era digital. Kegiatan berlangsung hybrid dengan studio utama Masjid Al Fattah, Sleman pada Minggu (25/10/2026).

Sleman (25/10). Ketua DPP LDII Koordinator Bidang Pendidikan dan Dakwah, Dwi Pramono, mengajak para dai dan mubaligh LDII untuk terus meningkatkan kompetensi, memperluas jaringan, dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah. Upaya tersebut dinilai penting agar dakwah semakin relevan dan kehadiran LDII dapat dirasakan masyarakat.

Hal itu disampaikan Dwi Pramono saat menjadi pemateri dalam Pembekalan Dai LDII se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang digelar secara hybrid di Masjid Al Fattah, Kalasan, Minggu (25/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti peserta dari studio utama dan studio mini di DPD LDII kabupaten/kota se-DIY.

Dwi menegaskan, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bekal penting bagi dai untuk menjalankan peran dakwah sekaligus membangun komunikasi dengan berbagai kalangan. Ia mendorong para mubaligh melanjutkan pendidikan formal sesuai kemampuan dan kesempatan yang dimiliki.

“Saya ingin memberikan inspirasi bahwa mubaligh juga bisa menjadi doktor. Jadi, jangan berhenti meningkatkan kompetensi. Silakan mencari kampus yang memungkinkan untuk kuliah sambil menjalankan amal saleh lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya memperluas wawasan keilmuan, tetapi juga membuka jaringan yang bermanfaat dalam membangun komunikasi dengan tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat. Dengan bekal tersebut, para dai diharapkan lebih percaya diri saat berdialog dengan berbagai pihak.

Ia mencontohkan pengalamannya menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas diri. Namun, ia mengingatkan bahwa pencapaian akademik harus diimbangi dengan kerendahan hati dan keikhlasan dalam beramal.

“Ketika seseorang memiliki kompetensi dan keistimewaan, terkadang muncul ego, riya, atau merasa lebih tinggi daripada orang lain. Karena itu, kita harus terus menjaga niat dan tetap rendah hati kepada siapa pun,” jelasnya.

Selain kompetensi individu, Dwi menekankan pentingnya membangun kedekatan dengan masyarakat melalui komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, dai tidak harus selalu memulai pendekatan dengan membicarakan organisasi. Interaksi sederhana sesuai minat dan kearifan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan yang lebih akrab.

Ia mencontohkan kegiatan minum kopi bersama sebagai salah satu cara mencairkan suasana ketika bertemu tokoh masyarakat. Pendekatan tersebut dapat membantu membangun persahabatan dan membuka ruang dialog yang lebih luas.

“Banyak cara untuk berkomunikasi dengan tokoh. Tidak harus langsung membicarakan organisasi. Kita bisa memulai dari hal-hal sederhana, membangun kedekatan, lalu menjalin ukhuwah,” katanya.

LDII DIY
Peserta pembekalan dai di studio utama Masjid Al Fattah, Kalasan, Sleman.

Dwi juga mengingatkan bahwa tanggung jawab dakwah tidak hanya berada di pundak pengurus tingkat pusat maupun provinsi. Peran dai dan warga LDII di tingkat Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) justru penting karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Ia mendorong para mubaligh untuk aktif mengenal tokoh setempat, mulai dari ketua RT dan RW, pengurus masjid, karang taruna, hingga komunitas lainnya. Kehadiran dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti gotong-royong dan ronda, juga menjadi bentuk kontribusi yang dapat memperkuat hubungan sosial.

“Walaupun tidak selalu berada dalam struktur organisasi, kita memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi aktif. Masyarakat perlu merasakan langsung manfaat keberadaan kita melalui kiprah di PC dan PAC,” ungkapnya.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Dwi turut mendorong para dai memanfaatkan media sosial secara positif. Menurutnya, platform digital dapat menjadi sarana memperkenalkan dakwah kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk kalangan yang sebelumnya belum mengenal LDII.

Ia menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat melalui siaran langsung TikTok. Dari komunikasi tersebut, ada orang yang tertarik mengenal LDII lebih jauh hingga mengikuti pengajian. Pengalaman itu menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan dan memperluas jangkauan dakwah.

“Media sosial itu seperti pisau bermata dua. Jika digunakan untuk hal negatif, dampaknya juga negatif. Namun, jika dimanfaatkan untuk amar makruf nahi mungkar, media sosial bisa menjadi sarana dakwah yang efektif,” tuturnya.

Dwi mengajak para dai untuk tidak ragu mempelajari teknologi dan mengembangkan kemampuan komunikasi. Ia juga mengingatkan pentingnya regenerasi dengan memberikan ruang kepada generasi muda untuk meningkatkan kompetensi dan mengambil peran dalam perjuangan dakwah.

Menurutnya, generasi muda bukanlah pesaing, melainkan mitra untuk menjaga keberlanjutan organisasi. Karena itu, para dai perlu mendorong kader muda agar keluar dari zona nyaman dan terus mengembangkan kapasitas diri.

Menutup pemaparannya, Dwi mengingatkan bahwa perjuangan dakwah membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan konsistensi. Ia mengajak para mubaligh menjalankan tugas dengan niat ikhlas karena Allah serta memaksimalkan peran masing-masing dalam membina umat.

“Pertolongan itu tidak datang tanpa perjuangan. Ada lelah, ada pengorbanan, dan ada proses yang harus dijalani. Karena itu, mari kita maksimalkan peran kita agar keberadaan LDII benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.

Check Also

Sekretaris DPW LDII DIY, Gathot Wardoyo saat memberikan materi kepada PC LDII Depok secara luring dan daring. Foto: Lines

Menuju Indonesia Emas, LDII Dorong Akhlak Mulia, Alim-Fakih, dan Kemandirian Santri

Jakarta (22/10) – Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk meneguhkan peran santri dalam pembangunan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *