Angkat Isu Lingkungan, Generasi Muda LDII Juara di RESIK Competition 2024

RESIK Competition
Muhammad Hasan Fatahuddin Noor (kiri) bersama tim Ajeng Ayu Wulaningtyas (tengah) dan Farihin Salman Al Farizi (kanan) berhasil meraih Juara Favorit Film Pendek RESIK Competition 2024.

Sleman (4/7) – Muhammad Hasan Fatahuddin Noor, generasi muda LDII berhasil meraih Juara Favorit dalam kategori Film Pendek dalam kompetisi Redefining Solutions on Plastic Pollution Towards Integrated Policy and Knowledge atau yang disingkat RESIK Competition 2024. Kompetisi ini merupakan bagian dari Kampanye ‘Resik’ yang diluncurkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Dietplastik Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), dan didukung oleh Kedutaan Besar Kanada di Indonesia. RESIK Competition memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya dalam hal penanganan sampah laut.

“Karena tema yang diangkat sangat menarik, tema-tema yang diangkat meminta peserta untuk menggali ide kreatif berbagai cara penanganan plastik entah dari cara mengurangi timbulan sampah plastik, pengolahan lebih lanjut bahkan mikroplastik untuk edukasi masyarakat. Kebetulan Jogja juga sedang marak masalah sampah, jadi ingin sekalian menyampaikan pesan yang harapannya bisa mengedukasi dan menjadi aksi nyata awal kami ngurangin sampah (mulai dari diri kami),” ungkap alumni Teknik Fisika bidang Instrumentasi dan Kontrol serta Energi Baru dan Terbarukan Universitas Gadjah Mada ini.

Penghargaan RESIK Competition 2024 yang berlangsung di Jakarta dihadiri Direktur Pengurangan Sampah KLHK Vinda Damayanti Ansjar, UNDP Resident Representative in Indonesia Norimasa Shimomura, Duta Besar Kanada untuk RI H. E. Jess Dutton, dan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati, S.H., M.Sc.

“Alhamdulillah sangat berkesan, tidak menyangka acaranya begitu besar dan megah dan menghadirkan tamu-tamu dari luar. Tentu bersyukur, melihat begitu seriusnya Indonesia dalam menanggapi permasalahan plastik yang semakin merajalela dengan mengadakan kegiatan inspiratif yang juga berisikan aksi nyata terhadap lingkungan. Keseriusan ini perlu dicontoh semua lini masyarakat untuk mulai membuka mata terhadap lingkungan,” ujarnya.

RESIK Competition
Bersama peserta yang meraih juara dalam RESIK Competition 2024.

Bersama tim, Ajeng Ayu Wulaningtyas dan Farihin Salman Al Farizi yang keduanya masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga angkatan 2021, ia menceritakan perjuangannya dalam membuat video. “Karena kami juga belum ekspert jadi masih banyak kekurangan, kamera yang kami gunakan pun kami pinjam. Tidak hanya itu, karena melibatkan teman-teman yang berbeda kampus dan kesibukan maka perlu benar-benar manajemen waktu untuk merencanakan mulai dari perencanaan, take video, ambil suara, dan proses mengeditnya. Alhamdulillah total orang yang terlibat dalam film 6 orang, dibantu bapak ibu yang bersedia menyediakan tempat untuk pengambilan film,” jelas pria asal Balikpapan, Kalimantan Timur ini.

Hasan yang sedang tugas mubaligh di PAC LDII Sendangtirto, Berbah, Sleman ini menilai, dalam menyikapi lingkungan tidak seperti dunia game yang ketika gagal bisa mengulang dari awal. Namun dalam menjaga lingkungan di sekitar kita, kesempatan kita hanya sekali. “Ketika bumi sudah rusak karena penggunaan sampah yang sembarangan, maka akan sangat sulit mengembalikan keadaan lingkungan seperti semula. Maka mulailah menjaga lingkungan dari sekarang, sebelum bumi terlanjur rusak. Dimulai dari diri kita,” ajaknya.

Hasan dan tim melalui karya Film Pendek berjudul “Retry” berhasil meraih juara favorit. Hasan menyebut, secara garis besar film tersebut menceritakan anak yang acuh dengan lingkungan, digambarkan dengan senang bermain game, terus-terusan menggunakan plastik sekali pakai dan tidak setuju mengadakan acara less waste dengan mengatakan “ngerepotin pake gituan, ngga penting” dll.

Di posisi yang kesal itu, lanjut Hasan, dia tertidur kemudian terbangun di masa depam dimana bencana sampah plastik sudah meraja lela. Orang-orang sudah makan dan minum sampah plastik, gunung sampah dan dia sangat menyesal keadaannya sudah terlambat. Tiba tiba dia tersadar kembali di masa lalu. Akhirnya sadar bahwa hidup ini tidak seperti main game yang ketika gagal bisa mengulang dari awal. Sejak itu dia peduli dengan sampah untuk mencegah bencana atau kerusakan lingkungan terjadi.

Hasan berharap raihan prestasi ini menjadi pembelajaran untuk pengelolaan lingkungan secara nyata kedepannya. “Pesan kami, bumi yang kita tinggali ini cuma satu, ketika gagal menjaga lingkungan maka kita tidak bisa mengulang keadaan dan tidak ada bumi yang lain lagi. Cegah kerusakan lingkungan dari diri kita sebelum terlanjur lingkungan menjadi rusak. Mari sadar sebelum semuanya terlambat,” pesannya.

Check Also

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat memaparkan Materi pada Munas X LDII 2026

Fadli Zon dan Abdul Mu’ti Tekankan Peran Budaya dan Pendidikan di Munas X LDII

Jakarta (9/4) — Pada gelaran Munas X LDII, Fadli Zon Menteri Pendidikan Fadli Zon menjadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *