
Sleman (15/7). Menyongsong Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII Daerah Istimewa Yogyakarta, upaya membentuk generasi penerus (generus) profesional sekaligus religius terus diperkuat melalui berbagai program pembinaan. Salah satunya diwujudkan melalui keterlibatan Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, sebagai pemateri dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Pondok (MPLS/P) SMA Insan Mulia Boarding School (IMBS) Yogyakarta, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan MPLS/P di sekolah naungan LDII ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai kalangan, mulai dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY, Bank Indonesia Perwakilan DIY, akademisi, hingga praktisi pendidikan dan perbankan.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY, Raden Suci Rohmadi, mengajak para siswa untuk mencintai budaya Yogyakarta sebagai bagian dari pembentukan karakter. Melalui materi Pendidikan Khas Kejogjakartaan (PKJ), ia menekankan pentingnya memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filosofi Yogyakarta sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman.
Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga harus berkarakter, menjunjung etika, serta mampu menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi yang unggul, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi kemajuan Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Indonesia.

Self Management
Pada kesempatan itu, Atus membawakan materi mengenai Self Management. Ia menjelaskan bahwa kemampuan mengelola diri merupakan modal dasar yang harus dimiliki setiap individu sebelum mampu menjadi pemimpin bagi orang lain.
Menurut Atus, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga ditopang oleh kedisiplinan, kemampuan mengatur waktu, mengendalikan emosi, serta menjaga integritas dalam setiap aspek kehidupan.
“Seseorang yang ingin menjadi pemimpin harus mampu memimpin dirinya terlebih dahulu. Karena itu, self management menjadi bekal penting agar generasi muda mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa meninggalkan nilai-nilai agama,” ujarnya.
Ia menambahkan, dinamika perkembangan zaman menuntut hadirnya generasi yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter kuat, etos kerja yang baik, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Karena itu, menurut dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut, pendidikan karakter harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan generasi muda agar lahir calon-calon pemimpin yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Atus menilai penguatan karakter perlu diiringi dengan pembinaan spiritual sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang profesional sekaligus religius. Nilai tersebut juga menjadi semangat yang diusung dalam Muswil VIII LDII DIY bertema “Penguatan SDM Profesional Religius untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan dan Budaya dalam Mendukung Pancamulia DIY”, yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 26 Juli 2026.
“Profesional religius harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Nilai itu dibangun melalui pembiasaan disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, dan akhlakul karimah sejak usia sekolah. Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan ikut berkontribusi dalam pembangunan DIY,” jelasnya.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Ibrahim, serta praktisi perbankan syariah Pingky Nurcahyani yang menyampaikan materi mengenai kepemimpinan, budaya, dan literasi keuangan.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta