Sleman – Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPW LDII) DIY sukses menggelar Training of Trainers (ToT) Budidaya Melon Premium pada Sabtu (18/01/2025). Program ini diinisiasi untuk mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus memperkuat program ketahanan pangan. Kegiatan yang berlangsung di Sleman ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dari Drs. H. Jumarodin, M.M., pengurus Biro Ekonomi dan Pemberdayaan Umat Dewan Masjid Indonesia (DMI) DIY sekaligus anggota Komisi Ekonomi dan Bina Kesejahteraan Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY.
Drs. H. Jumarodin, M.M., menyampaikan rasa senangnya atas inisiatif LDII DIY yang mengadakan pelatihan ini.“Kami dari DMI DIY senang ada ormas seperti LDII DIY yang menginisiasi Training of Trainers tentang budidaya melon premium. Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya terbatas di LDII, tetapi bisa digetoktularkan kepada jamaah masjid di sekitarnya, bahkan secara bertahap di seluruh DIY. Dengan demikian, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.

Peluang Kampung Wisata Halal Serta
Selain mengapresiasi program ToT, Ust. Jumarodin juga menyinggung pentingnya pengembangan kampung wisata halal sebagai kelanjutan dari keberhasilan LDII mengelola Kampung Iklim Sangurejo. Beliau menjelaskan lima kriteria utama sebuah kampung wisata halal:
- Komitmen terhadap ajaran Islam.
- Bahan-bahan yang tersedia sesuai syariat/halal.
- Proses produksi produk yang sesuai syariat.
- Pengemasan produk yang juga memenuhi kriteria syariat.
- Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) yang siap dimonitor secara berkala.
“Kampung halal itu tidak hanya diminati oleh orang Islam, tetapi juga oleh non-Muslim, terutama sejak pandemi. Produk halal dan thoyib sekarang menjadi daya tarik tersendiri bagi semua kalangan,” tambahnya.

Sebagai anggota Komisi Ekonomi MUI, Ust. Jumarodin menilai bahwa LDII telah menunjukkan kiprah nyata dalam memberdayakan umat melalui program seperti budidaya melon premium. Beliau juga menyoroti potensi sinergi antar organisasi untuk mengatasi tantangan ekonomi di DIY.
“DIY itu terkenal sebagai provinsi termiskin di Indonesia, tetapi paling bahagia. Nah, bahagianya dipertahankan, dan kemiskinan ini kita atasi perlahan-lahan, salah satunya lewat budidaya melon premium. Jika cocok dengan iklim DIY, ini bisa dikembangkan di tiap kabupaten/kota hingga kecamatan, minimal kecamatan, lah. Dari gerakan LDII, tiap kecamatan bisa menjadi model budidaya melon premium yang meningkatkan perekonomian umat,” jelasnya.
Mendorong Sinergi Pemberdayaan Umat
Beliau juga menambahkan bahwa keberhasilan ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk membantu pemerintah daerah dalam memberantas kemiskinan.
“Kita fokus pada program yang dinilai tepat. SDM sudah ada, tinggal dikembangkan kerjasamanya. Dengan hasil dari budidaya ini, gerakan dakwah juga bisa memperoleh tambahan dana dari keuntungan melon premium, yang nantinya akan menggerakkan lebih banyak kegiatan untuk umat,” tutupnya.

Program ToT Budidaya Melon Premium yang diinisiasi DPW LDII DIY ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kolaborasi lintas organisasi dalam mewujudkan kesejahteraan umat secara menyeluruh.
Writer: Zula
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta