Dukung Eco Pesantren, Ponpes Gadingmangu Gandeng UGM Gelar Sosialisasi Zero Waste Bagi Warga Pondok

Gadingmangu, Jombang – Pondok Pesantren Gadingmangu gandeng Universitas Gadjah Mada untuk mengadakan sosialisasi Zero Waste dalam upaya mendukung terwujudnya Eco Pesantren. Kegiatan ini digagas oleh Tim Eco Pesantren Gadingmangu berkolaborasi dengan Mahasiswa UGM.  Mahasiswa tersebut yaitu Naufal Haidar, Herlambang Arief, Rheno Diyasando, Satria Utama, Sherlynda Vallen, Najwa Aryana, Reynata Diva dan Ulinucha Azizah. Tim dari UGm ini dibawah bimbingan Dosen Fakultas Kehutanan, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU.

Para peserta dari Ponpes gadingmangu dan Pemateri dari UGM berfoto bersama

Zero Waste merupakan gagasan bahwa sampah bisa diminimalisir sejak dari sumbernya, konsep ini menekankan santri untuk bertanggung jawab dengan sampah yang dihasilkan dengan meminimalisir penggunaan barang sekali pakai serta memilih produk yang dapat digunakan kembali. Sosialisasi Zero Waste ini tujukan kepada tenaga pendidik, santri, pemilik kos serta pedagang di sekitar ponpes. Aktivitas ribuan santri, ditambah dengan keberadaan kos dan pedagang sekitar berpotensi menghasilkan tumpukan sampah harian yang jumlahnya tidak sedikit. Sehingga permasalah mengenai sampah ini adalah hal yang sangat penting untuk segera diatasi. Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 13 sampai 18 Agustus ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran bersama untuk mengurangi produksi sampah dan menciptakan lingkungan yang bersih, indah dan nyaman. 

Rheno, mahasiswa Fakultas Peternakan UGM menjelaskan bahwa sampah yang paling banyak dihasilkan di pondok pesantren berupa sampah plastik yang bersumber dari jajanan kaki lima, sehingga seluruh warga pondok perlu diedukasi untuk mengurangi penggunaan plastik dengan membawa tumblr dan wadah yang bisa dipakai berulang kali. 

Langkah Utama Pengelolaan Sampah

Melalui pendekatan edukatif, mahasiswa UGM menjelaskan tiga langkah utama dalam pengelolaan sampah: Reduce, Reuse, Recycle. Reduce berarti mengurangi penggunaan barang sekali pakai; Reuse, penggunaan kembali barang yang masih layak pakai; sementara Recycle adalah mendaur ulang barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai guna. Sebelum memulai sosialisasi, mahasiswa menyebarkan kuesioner kepada santri. Tujuannya adalah mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai pengelolaan sampah, kebiasaan sehari-hari dalam membuang sampah, serta persepsi mereka terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Hasil kuisioner ini menjadi dasar untuk menyesuaikan materi dan bahan evaluasi.

Atus Syahbudin yang membersamai Tim dari UGM memberikan Sambutan pada sosialisasi Zero Waste di Ponpes Gadingmangu

“Saya berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran bagi seluruh warga Pondok Pesantren Gadingmangu dan masyarakat sekitarnya dalam membiasakan hidup sederhana tanpa menghasilkan banyak sampah, dengan begitu, gerakan zero waste bukan hanya menjadi program sementara, tetapi bisa menjadi bagian dari budaya sehari-hari di lingkungan pesantren,” ujar Reynata salah satu mahasiswa pelaksana kegiatan.

Tim dari UGM yang dipimpin oleh Atus Syahbudin untuk Mensosialisasikan Mengenai Zero Waste di Ponpes Gadingmangu

Untuk meningkatkan antusiasme para santri terhadap zero waste, Pondok Pesantren Gadingmangu juga menyelenggarakan lomba bertema eco-pesantren. Lomba ini meliputi pembuatan poster dan video kampanye tentang zero waste, kreasi kerajinan dari barang bekas serta inovasi pemanfaatan limbah organik. Melalui kegiatan ini, santri diajak memanfaatkan plastik bekas, kertas, hingga sampah organik menjadi produk yang bermanfaat. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, membangun kesadaran lingkungan, sekaligus membuka peluang wirausaha kecil yang dapat mendukung kemandirian santri.

Menjaga Lingkungan merupakan Bagian dari Ibadah

Sosialisasi Gerakan Zero Waste ini bukan hanya tentang pemilahan sampah dan reduksi barang sekali pakai, tetapi tentang perubahan mindset bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah, tanggung jawab bersama, dan warisan bagi generasi mendatang. Kegiatan sosialisasi ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Para santri menyatakan kesiapannya untuk mulai menerapkan pola hidup zero waste dalam aktivitas sehari-hari, baik di pondok maupun di luar. Pemilik kos dan pedagang sekitar juga menunjukkan dukungan dengan berkomitmen mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Sementara itu, pengurus pondok bersama para guru siap menjadi teladan sekaligus melakukan pendampingan agar gerakan ini dapat berjalan berkelanjutan. Antusiasme yang ditunjukkan seluruh peserta menjadi modal penting untuk menjadikan Pondok Pesantren Gadingmangu sebagai pelopor eco-pesantren yang konsisten dalam mengelola lingkungan.

 

Penulis: Reynata Diva

Check Also

DPD LDII dan BKKBN Kota Yogyakarta Sosialisasikan Sekolah Lansia

Yogyakarta – DPD LDII Kota Yogyakarta bersama BKKBN Kota Yogyakarta menggelar sosialisasi Sekolah Lansia jelang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *