Gerakan 1 Juta Pohon dan Peran LDII dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan

Peran LDII dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan
DPW LDII DIY bersama Sako SPN DIY melakukan penanaman pohon di Embung Kaliaji, Turi, Sleman, Minggu (26/2/2023).

Jakarta (12/1) –  Pada 10 Januari 1993, Presiden Suharto meluncurkan gerakan penanaman satu juta pohon di setiap provinsi, yang kemudian diperingati setiap 10 Januari sebagai Hari 1 Juta Pohon. Tujuan dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pohon, terutama dalam mengurangi pemanasan global dan menjaga keseimbangan ekosistem yang genting untuk ditindaklanjuti saat ini. 

Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII, Siham Afatta, menjelaskan bahwa pohon dapat mengurangi dampak perubahan iklim yang semakin mengancam karena pohon menyerap sinar matahari melalui proses fotosintesis. Hal ini disampaikan olehnya karena bumi sudah memasuki era Antroposen, di mana aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap ekosistem, mengutip dari pemikiran Paul J. Crutzen.

Siham kemudian menyebut penambahan gas rumah kaca oleh aktivitas manusia menjadi penyebab perubahan iklim yang terjadi di bumi. Penebangan hutan yang tidak terkendali, menurutnya, juga semakin memperburuk keadaan dengan mengurangi habitat alami dan mengubah fungsi kawasan hijau. Oleh karena itu, Siham menekankan pentingnya upaya pelestarian lingkungan yang holistik dan berkelanjutan, yang tidak hanya bergantung pada solusi jangka pendek.

“Reforestasi harus dilakukan dengan perencanaan strategis yang mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan ekologis, dengan prioritas pada hutan alam yang belum terjamah manusia,” jelasnya. Selain itu, regenerasi hutan memerlukan strategi kelembagaan, pendanaan, dan peraturan yang mendukung pengelolaan jangka panjang.

Mulainya Kontribusi LDII dalam Mitigasi Perubahan Iklim

LDII telah melaksanakan program Go Green sejak 2007 dengan penanaman 4 juta pohon. Selanjutnya, LDII meluncurkan Program Kampung Iklim (ProKlim), yang bertujuan melibatkan masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan berbasis tapak di tingkat lokal, seperti desa atau RW.

Menurut Atus Syahbudin, Anggota Departemen LISDAL DPP LDII, ProKlim mengajak masyarakat, termasuk warga LDII, untuk berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan di wilayah mereka masing-masing. Demi meningkatkan partisipasi warga, menurutnya, diperlukan dua pendekatan. Pertama, melalui edukasi dan pencerahan untuk membangkitkan kesadaran mereka terhadap lingkungan. “Pendekatan kedua adalah dengan memanfaatkan figur lokal yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat,” katanya. 

Pentingnya Mekanisme Pengaturan dari Atas Agar Program Terlaksana

Tak hanya partisipasi warga, Atus juga menyoroti pentingnya pengaturan dari tingkat atas. Program seperti Kyai Peduli Sampah yang telah diinisiasi di Yogyakarta, serta Kelompok Sedekah Sampah Berbasis Masjid yang melibatkan pemuda LDII, turut berperan dalam meningkatkan kesadaran akan pengelolaan sampah. Dengan menggunakan ketokohan lokal seperti sesepuh pondok untuk meminta amal sholih warga semampunya akan program tersebut sesuai aturan yang disepakati, ProKlim dapat dipastikan berjalan dengan baik.

“Bersamaan itu, beberapa pondok pesantren (ponpes) naungan LDII sudah menjalankan zero waste,” ujar Atus. Demi efektivitas, Atus menyebutkan bahwa seringkali program zero waste menjadi bagian ProKlim di wilayah pondok pesantren tersebut. Ia memberi contoh Zero Waste yang telah terlaksana, yaitu ada di Ponpes Gadingmangu, Jombang, dan Ponpes Nurul Huda Natar, Lampung Selatan.

Atus menutup sesi wawancara dengan menyampaikan bahwa program ini tentunya dibimbing serta dimonitoring dan dievaluasi selama pengadaan. Pemantauan tersebut dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan para pejabat terkait setempat, serta akademisi dari UGM, IPB, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Minhajurrosyidiin (STAIMI) Jakarta untuk memastikan keberhasilan ProKlim.

Tanggapan DPD LDII Sleman Terkait Program Peduli Lingkungan DPW LDII DIY

Ketua DPD LDII Sleman, Suwarjo, menanggapi program peduli lingkungan yang telah diluncurkan oleh DPW LDII DIY. Menurutnya, kebersihan merupakan sebagian dari iman dan harus diupayakan dengan nyata ini menjadi pemicu pelaksanaan program Kyai Peduli Sampah dan ProKlim. Ajaran agama yang mengajarkan tentang hidup bersih kemudian menjadi motivasi dalam menjaga lingkungan melalui program tersebut. 

“Bertambahnya populasi manusia dan aktivitas produksi maupun konsumsi masyarakat secara otomatis akan berpengaruh pada peningkatan volume sampah yang dihasilkan. Jika sampah yang semakin meningkat volumenya tidak ditangani dengan baik, maka tidak mustahil akan menimbulkan permasalahan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Maka DPW LDII DIY meluncurkan berbagai upaya seperti ProKlim untuk turut berkontribusi dalam penjagaan lingkungan,” tutupnya.

Check Also

Hari Santri Nasional

Peringati HSN, DPP LDII Ingatkan Peran Santri dan Adaptasi Zaman

Jakarta (24/10). Setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional (HSN) untuk mengenang jasa para …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *