
Sleman (8/12) – Akhir-akhir ini Kabupaten Banyumas banyak disorot di berbagai media sosial karena prestasinya mengenai pengelolaan sampah. Hal itu tidak hanya terdengar di dalam negeri saja melainkan juga di luar negeri. Beberapa negara bahkan sampai melakukan studi tiru ke Banyumas untuk melihat langsung proses pengelolaan sampah di kabupaten tersebut.
Banyumas juga disebut sebagai kabupaten pertama di Indonesia yang menjadi daerah zero waster, yaitu dengan tidak adanya TPA atau Tempat Pembuangan Akhir di daerah tersebut. Hal ini merupakan pencapaian yang sangat besar di Indonesia. Mengingat Indonesia mempunyai timbunan sampah sekitar 64 juta ton per tahun menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan dari angka yang sebegitu besarnya hanya sekitar 10% yang didaur ulang.
Menyikapi hal tersebut, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan studi tiru pengeloaan sampah ke Kabupaten Banyumas. Hal ini juga dalam rangka mensukseskan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW LDII DIY yang telah dilaksanakan pada 26 November 2023.
DPW LDII DIY mempunyai program Kyai Peduli Sampah yang bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga minim sampah menuju zero waste dan menggerakkan sedekah sampah menjadi jariah. Untuk mewujudkan hal tersebut salah satu program yang dilakukan adalah melakukan studi tiru ke Kabupaten Banyumas yang sudah sukses menerapkan zero waste.
Peserta studi tiru ini di antaranya, perwakilan dari FOKKALIS (Forum Kolaborasi Komunitas Peduli Sampah) DIY, Perwakilan Kampung ProKlim LDII yang ada di beberapa kabupaten di DIY, dan pengelola dari Program Sedekah Sampah. Studi tiru pengelolaan sampah ini dilaksanakan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas.

Perwakilan DLH menjelaskan tentang mekanisme pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas, serta beberapa tahapan untuk bisa sampai ke tahap sekarang. Mekanisme pengelolaan sampah di Banyumas sendiri dibagi ke dalam beberapa KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Banyak KSM yang terbentuk untuk mengolah sampah secara mandiri, KSM tersebut terbentuk pada tahun 2018.
Seiring berjalannya waktu yang awalnya hanya punya alat cacah organik saja, makin berkembang dengan tambahan mesin-mesin pengolah lainnya seperti mesin pirolisis, mesin pemisah serta ada juga mesin pembuat ecobrick. KSM rutin dikumpulkan serta diberi arahan dan pendampingan agar tetap eksis bukannya menimbulkan masalah, hal ini didukung oleh pemerintah juga, seperti penyediaan peralatan.
Pada pemaparan yang dilakukan oleh pihak DLH ini juga disampaikan mengenai jenis-jenis pengolahan sampah dan prosesnya, mulai dari pemilahan sampah di Mesin Conveyor sampai dipisah-pisah menjadi berbagai jenis produk seperti biji plastik, RDF, Kasgot sampai Eco Brick.
Di sela-sela pemaparan ada sesi tanya jawab dan ada beberapa pertanyaan salah satunya dari Ketua DPW LDII DIY, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D. IPU. “Terkait pembentukan KSM, bagaimana KSM bisa sustain?,” ucapnya. Lalu dari pihak DLH menjawab Operasional KSM diambil dari iuran per rumah, dulu hanya 5-10 ribu, tapi sekarang bisa sampai 30 ribu peserta. Saat ini ada 43 KSM, ada paguyuban KSM dengan SK Bupati agar pendampingan semakin nyata.

Setelah sesi pemaparan dan tanya jawab, acara dilanjutkan survey ke tempat pengolahan sampah, ada 2 tempat yang disurvey untuk studi tiru ini yaitu TPA BLE Banyumas dan TPST Kedungrandu Banyumas. Para peserta bisa melihat langsung proses pengolahan sampah dan bagaimana bisa sampai menjadi berbagai produk yang berguna dan bernilai tinggi.
H Moelyanto Widodo salah satu peserta juga mengapresiasi program yang dilaksanakan DPW LDII DIY ini. “Setelah melihat beberapa lokasi pengolahan sampah, sangat bagus dan bisa dicontoh untuk Yogyakarta, semoga program dari DPW ini bisa terlaksana dengan baik,” tandasnya.
Atus Syahbudin juga menambahkan bahwa kami belajar bagaimana sampah yang tidak bernilai bisa jadi barang bernilai. “Kami belajar bagaimana sampah, dari barang yang tidak berguna menjadi uang, tentunya tidak hanya uang tapi amal jariyah kita semua menjadikan sampah tidak ada sehingga lingkungan menjadi bersih dan masyarakat memiliki karakter kebersihan dan semakin sejahtera berkat uang yang didapatkan,” ucapnya.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta