
Sleman (24/5) – Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) memilih LDII sebagai objek penelitiannya. Pada Minggu (19/5/2024), empat mahasiswa UIN Suka melakukan studi penelitian ke kompleks Masjid Mulyo Abadi, Yogyakarta. Kompleks masjid yang menyatu dengan Pondok Pesantren Mulyo Abadi Yogyakarta tersebut dinaungi oleh Yayasan Mulyo Abadi milik LDII.
Aunila Fia Maulidiya, Dewi Masyithah, Nur Khikam, dan Chamida Kameliyatin Nada diajak berkeliling di kompleks ponpes untuk mengamati kegiatan yang ada di dalamnya. Peninjauan dipandu oleh Ketua DPD LDII DIY Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU. dan Ketua DPD LDII Sleman Suwarjo, S.I.P., M.Si.
Keempat mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam UIN Suka tersebut melihat fasilitas yang tersedia di ponpes antara lain kelas pembelajaran, kamar tamu, masjid hingga kamar mandi yang harus sesuai dengan pedoman LDII. Kamar mandi dengan syarat harus memiliki bak air sedikitnya dapat menampung 216 liter, lantai miring ke arah pintu, diberi saluran pembuangan air, serta harus ada perbedaan tinggi kloset dan lantai kamar mandi.
Salah satu mahasiswa, Khikam, menyampaikan bahwa diskusi awal dengan Dosen Kehutanan UGM di Kalasan sebelumnya digunakan sebagai penyampaian teori ke-LDII-an. Hal itu kemudian dilanjutkan dengan praktik mengeksplor LDII lebih nyata dengan hadir dalam kegiatan-kegiatannya.

Penelitian yang dilakukan ini merupakan tugas mata kuliah Multikultural. Tujuannya mahasiswa harus bisa membuktikan kebenaran jika ada stereotipe yang kurang baik dari luar.
“Sebenarnya dulu saya juga memiliki stereotipe buruk terhadap LDII. Tapi setelah berkeliling ini, ternyata stereotipe itu sama sekali tidak benar. Kami malah menemukan hal baru yang baik disini dan ternyata LDII seterbuka itu. Ajaran-ajarannya pun diimplementasikan dengan baik,” tutur Chamida.
Setelah memperoleh peninjauan dan penjelasan dari pihak LDII sendiri, stereotipe buruk tentang LDII hilang. Beberapa stereotipe yang banyak didengar masyarakat yakni ketika sholat di masjid LDII pasti akan dipel setelahnya, kenapa harus ada plang jarak masjid LDII, dan lain-lain. “Ketika mendapatkan suatu kabar tentang LDII yang begini memang harus coba datang dulu dan melakukan eksplore sendiri, tidak langsung menyimpulkan,” pungkas Khikam. (Zhr)
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta