
Yogyakarta (29/7) – Ketua Umum DPP LDII, H. Dody Taufiq Wijaya, mengapresiasi berbagai program unggulan yang dikembangkan DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Program ini khususnya di bidang ekoteologi dan dakwah lingkungan.
Menurutnya, berbagai inovasi LDII DIY telah menjadi rujukan bagi sejumlah DPW lain bahkan turut mengangkat citra organisasi di tingkat nasional.
Hal tersebut disampaikan Dody saat memberikan pengarahan sekaligus menutup Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII DIY di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Yogyakarta.
Dody mengawali sambutannya dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, pengurus, dan warga LDII yang telah bekerja keras menyukseskan Muswil VIII. Ia menilai keberhasilan penyelenggaraan muswil tidak lepas dari proses panjang yang telah dipersiapkan selama beberapa bulan.
“Muswil ini tidak hanya dipersiapkan pada hari pelaksanaan, tetapi telah melalui proses panjang. Banyak waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta yang dikorbankan oleh para panitia dan pengurus. Insyaallah semuanya menjadi amal saleh dan ladang pahala,” ujarnya.
Program LDII DIY Menjadi Referensi Nasional
Dalam arahannya, Dody secara khusus menyoroti kontribusi DPW LDII DIY yang dinilai berhasil menghadirkan berbagai program inovatif hingga menjadi contoh bagi daerah lain.
Salah satunya adalah program-program berbasis ekoteologi yang mengintegrasikan dakwah dengan pelestarian lingkungan.
Ia menyebut Program Kampung Iklim (ProKlim), gerakan Kyai Peduli Sampah, serta berbagai kegiatan kemuliaan lingkungan. Program ini sebagai identitas khas LDII DIY yang banyak mendapat apresiasi, baik dari DPW lain maupun pemerintah.
“Program-program DIY sering menjadi pembahasan di tingkat nasional. Banyak daerah yang ingin meniru karena program-program seperti ProKlim, Kampung Iklim, dan Kyai Peduli Sampah telah menjadi ikon yang membanggakan,” katanya.
Menurut Dody, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran pengurus dan warga LDII DIY yang patut disyukuri serta terus dikembangkan.
Ia juga mengapresiasi upaya LDII DIY yang mulai memperluas kontribusi di bidang pendidikan dan berbagai program kemasyarakatan lainnya.
Selain memberikan apresiasi, Dody mengingatkan pengurus LDII agar senantiasa menjadikan musyawarah sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan organisasi.
Ia menegaskan bahwa mekanisme bermusyawarah bersama Dewan Penasehat Daerah harus terus dijaga, terutama dalam merancang program strategis maupun pembangunan organisasi.
“Musyawarah merupakan perintah yang harus dijalankan. Setiap perencanaan kegiatan besar hendaknya dibahas bersama sejak awal sebelum diputuskan dan dilaksanakan,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari capaian program, tetapi juga dari terjaganya kerukunan dan kekompakan seluruh pengurus serta warga LDII.
“Yang paling penting bukan hanya hasil program, tetapi bagaimana kerukunan dan kekompakan tetap terpelihara dalam seluruh proses organisasi,” imbuhnya.
Program Lima Tahun Harus Adaptif
Dody juga meminta agar program kerja lima tahun ke depan yang akan disusun melalui rapat kerja disesuaikan dengan dinamika yang berkembang, baik di tingkat nasional, regional, maupun global.
Ia mendorong agar program-program unggulan LDII DIY tidak hanya dipertahankan, tetapi juga ditingkatkan kualitas dan jangkauannya sehingga dapat direplikasi oleh DPW lain di Indonesia.
“Program-program yang menjadi unggulan DIY perlu terus ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya agar dapat menjadi inspirasi bagi provinsi-provinsi lain,” ujarnya.
Mengakhiri arahannya, Dody secara resmi menutup Musyawarah Wilayah VIII LDII DIY Tahun 2026 seraya berharap kepengurusan yang baru mampu melanjutkan berbagai program unggulan sekaligus memperkuat kontribusi LDII bagi masyarakat, pemerintah daerah, dan pembangunan bangsa.
Penulis: Hafida
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta