
Yogyakarta (20/10). LDII DIY menegaskan komitmennya dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional melalui penguatan manajemen talenta. Program Talent Scouting menjadi bagian strategis yang digagas Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan (PUP) DPP LDII sebagai upaya melahirkan generasi profesional religius yang mampu berkontribusi bagi bangsa.
Menurut pemaparan Ketua DPP LDII Bidang PUP, Basseng, talenta adalah individu dengan kompetensi luar biasa yang memiliki kecerdasan komprehensif, kemampuan memprediksi masa depan pada bidangnya, serta memahami strategi konkret untuk mewujudkan visi tersebut. “Talenta bukan hanya pintar, tapi mampu menjadi ikon dan menghasilkan karya nyata yang diakui secara nasional maupun internasional,” ujarnya pada saat memberikan materi pada Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) LDII DIY, Sabtu (18/10).
Basseng menilai, peresmian Asosiasi Dosen LDII DIY dan penguatan Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM), ini menegaskan bahwa pencetakan generasi bertalenta telah memasuki fase kelembagaan. Talenta yang dicetak mencakup empat bidang utama: riset dan inovasi, seni dan budaya, olahraga, serta agama Islam.
Ia menjelaskan, Program Talent Scouting dirancang dalam tiga tahap besar. Pada jangka pendek dilakukan pemetaan dan pencarian bibit unggul dari tingkat SMP, SMA, hingga mahasiswa di PPM. Jangka menengah (2025–2026) akan dibentuk kelembagaan khusus di bawah Biro PUP. Dalam jangka panjang, lembaga ini diharapkan menjadi talent pool profesional yang terintegrasi dengan ekosistem pendidikan nasional.

“LDII tidak bisa dipisahkan dari NKRI. Kontribusi terhadap negara harus ditingkatkan melalui desain besar talenta nasional,” tegasnya. Ia menambahkan, SDM bertalenta ini akan diarahkan untuk mengikuti kompetisi, memperoleh beasiswa, hingga dipantau kiprahnya ketika memasuki dunia kerja melalui mekanisme monitoring dan evaluasi (monev).
Struktur organisasi lembaga talenta terdiri dari sekretariat, mentor dan coach, serta empat bidang utama: pencarian bibit, pengembangan, monitoring-evaluasi, dan perluasan akses beasiswa. Sistemnya dirancang melalui proses matching antara bibit bertalenta, mentor sesuai bidang, dan coach sebagai motivator, sehingga talenta tidak hanya ditemukan, tetapi juga dibina hingga menghasilkan kontribusi bagi negara.
“Ini merupakan terobosan baru di ranah civil society. Belum ada organisasi lain yang menginisiasi talent in the civil society seperti yang dilakukan LDII,” pungkasnya.
Dengan manajemen talenta yang terstruktur dan profesional, LDII optimis dapat memperkuat posisi umat dalam pembangunan nasional dan membawa generasi penerus menjadi motor kemajuan bangsa.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta