
Kulon Progo (31/7). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), meninjau Kampung Program Kampung Iklim (ProKlim) Kembang, di Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogy, Jumat (31/7/2026). Kunjungan tersebut dilakukan setelah Kampung ProKlim Kembang berhasil meraih penghargaan ProKlim Utama serta Kampung Tangguh Iklim.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua DPW LDII DIY Atus Syahbudin didampingi Ketua Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPW LDII DIY Ustadz Endri Sulistyo, Ketua DPD LDII Kabupaten Kulon Progo Pandaya beserta jajaran pengurus harian, serta penggerak Kampung ProKlim Kembang, Samidi.
Kegiatan ini juga mendampingi wartawan Majalah Nuansa Persada dari DPP LDII, Edy Irianto, yang melakukan peliputan mengenai pengembangan Kampung ProKlim Kembang.
Atus mengapresiasi konsistensi warga dalam mengembangkan berbagai program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Menurutnya, capaian yang telah diraih menjadi modal penting untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan menuju kategori ProKlim Lestari.
“Kami berharap Kampung ProKlim Kembang dapat terus berkembang hingga mencapai kategori ProKlim Lestari. Keberhasilan ini juga perlu menjadi inspirasi dan ditularkan kepada kampung-kampung lainnya di DIY agar semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Mengamati potensi yang dimiliki Kampung ProKlim Kembang, dosen Fakultas Kehutanan UGM ini menilai perkebunan kakao dan industri penyulingan minyak atsiri layak dikembangkan sebagai komoditas unggulan kawasan. Menurutnya, kedua sektor tersebut tidak hanya mendukung upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.
Dalam peninjauan tersebut, Atus mengunjungi kawasan perkebunan kakao bersama penggerak Kampung ProKlim Kembang, Samidi. Di lokasi itu, Samidi menjelaskan teknik pruning atau pemangkasan yang dilakukan secara berkala untuk menjaga produktivitas tanaman. Ia juga memperlihatkan penerapan lubang biopori di sela-sela tanaman kakao sebagai upaya meningkatkan daya resap air sekaligus menjaga kesuburan tanah.
Rombongan kemudian meninjau unit penyulingan minyak atsiri yang menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat. Meski saat kunjungan proses produksi sedang tidak berlangsung, Atus menilai fasilitas tersebut memiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan Kampung ProKlim Kembang.
Selain sektor pertanian dan ekonomi, Atus juga meninjau sistem pengelolaan sampah yang telah diterapkan masyarakat. Menurutnya, pengelolaan sampah di Kampung ProKlim Kembang sudah berjalan dengan baik dan perlu dipertahankan.

“Kalau memungkinkan, pengelolaan sampah ini dapat ditingkatkan melalui pembentukan bank sampah sehingga manfaatnya tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Atus berharap semangat menjaga lingkungan yang tumbuh di Kampung ProKlim Kembang terus berkembang melalui kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Menurutnya, keberhasilan Kampung ProKlim bukan hanya diukur dari penghargaan yang diraih, tetapi juga dari keberlanjutan program dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Keberhasilan Kampung Proklim Kembang meraih predikat ProKlim Utama tidak terlepas dari proses pendampingan yang dilakukan DPW LDII DIY bersama berbagai pihak. Dalam proses tersebut, Agus Kurniawan dari BRIN dan M. Chairul Huda, Ketua Kampung Proklim Sangurejo, Sleman, turut berbagi pengalaman dan praktik baik yang telah mengantarkan Sangurejo lebih dahulu meraih predikat Proklim Utama.
Transfer pengetahuan antarkampung tersebut menjadi bagian dari komitmen LDII DIY dalam memperluas gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta