
Yogyakarta (20/7) – Menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2026, berbagai program pengabdian yang telah dijalankan LDII DIY kembali menjadi perhatian. Salah satu yang terus dikembangkan secara konsisten adalah bidang lingkungan hidup, melalui berbagai gerakan berbasis masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi warga.
Komitmen tersebut sejalan dengan tema Muswil VIII LDII DIY, “Penguatan SDM Profesional Religius untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan dan Budaya dalam Mendukung Pancamulia DIY.” Tema ini mencerminkan keyakinan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, mengatakan persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata, melainkan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, LDII DIY berupaya menghadirkan berbagai program yang sederhana, mudah diterapkan, namun berdampak nyata.
“Lingkungan adalah ruang hidup bersama. Menjaganya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian kita kepada masyarakat. Karena itu, LDII terus mengembangkan gerakan-gerakan yang mampu membangun kesadaran sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial,” ungkap dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini.

Program Kyai Peduli Sampah
Salah satu program yang terus digaungkan adalah Gerakan Kyai Peduli Sampah, yang mengajak para tokoh agama menjadi teladan dalam pengelolaan lingkungan. Melalui pendekatan dakwah, para dai tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mengurangi sampah, memilah sampah sejak dari rumah, serta menjaga kebersihan lingkungan.
Pengabdian LDII DIY di bidang lingkungan tersebut diperkuat melalui program Sampah Jadi Jariyah dan Sedekah Sampah Akbar, yang mendorong warga menjadikan sampah bernilai ekonomi sebagai media berbagi. Sampah yang telah dipilah dikumpulkan melalui bank sampah atau kegiatan sedekah sampah, kemudian hasilnya dimanfaatkan untuk kegiatan sosial, pembangunan fasilitas umum, maupun pemberdayaan masyarakat.
Menurut Atus, pendekatan tersebut mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. “Kami ingin membangun kesadaran bahwa sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang, tetapi dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan baik. Ketika hasil pengelolaannya digunakan untuk membantu sesama, maka sampah pun dapat menjadi amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir,” katanya.
Di sisi lain, LDII DIY juga mengembangkan program Jugangan Ing Omah (Jugangin Om) dan Jugangan Ing Masjid (Jugangin Mas). Program ini mengajak masyarakat mengolah sampah organik menjadi kompos melalui lubang biopori atau jugangan di lingkungan rumah maupun masjid. Selain mengurangi volume sampah organik, program tersebut juga membantu meningkatkan daya serap air tanah serta menghasilkan pupuk organik bagi tanaman.
Pengabdian LDII DIY di Bidang Lingkungan dengan Proklim
Pengabdian LDII DIY di bidang lingkungan juga diwujudkan melalui pembinaan Program Kampung Iklim (ProKlim) di berbagai daerah. Salah satu capaian yang menonjol adalah Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, yang berhasil meraih Trofi ProKlim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Pada 2026, kawasan tersebut kembali memperoleh penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat DIY sekaligus ditetapkan sebagai kawasan ProKlim terbaik di DIY. Tahun ini, Sangurejo juga diajukan sebagai nominasi ProKlim Lestari, kategori tertinggi dalam Program Kampung Iklim, yang berpeluang menjadi yang pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sementara itu, Padukuhan Kembang, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, juga berhasil meraih Sertifikat ProKlim Utama Tahun 2025 melalui berbagai program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat.

Pengembangan ProKlim tersebut didukung melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga komunitas lingkungan. Kolaborasi tersebut mencakup riset, edukasi perubahan perilaku, penghijauan, konservasi sumber daya air, hingga penguatan kapasitas masyarakat menghadapi perubahan iklim.
Di Kabupaten Gunungkidul, perhatian LDII terhadap lingkungan dipadukan dengan penguatan ketahanan pangan. Warga mengembangkan budidaya ikan lele menggunakan Ramuan Barokah 354, pakan berbahan dasar empon-empon yang mampu mengurangi bau amis sekaligus meningkatkan kualitas budidaya. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan potensi lokal untuk mendukung ketahanan pangan yang ramah lingkungan.
Atus menegaskan, seluruh program tersebut merupakan implementasi dakwah bil hal yang selama ini dikembangkan LDII.
“Kami ingin menghadirkan dakwah yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketahanan lingkungan dan ketahanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun sumber daya manusia yang profesional religius. Semoga ikhtiar ini dapat terus berkembang melalui kolaborasi bersama pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat luas,” tutupnya.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta