
Yogyakarta (20/10). Ketua Biro Pengabdian Masyarakat (Penamas) DPW LDII DIY memberikan materi pada Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) LDII DIY pada Sabtu (18/10). Materi berjudul “CKG PC se-DIY” ini dalam rangka menyampaikan hasil Rakornas LDII dan menyukseskan Asta Cita bidang kesehatan.
“Alhamdulillah LDII di seluruh DIY sudah melaksanakan kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hasil evaluasi menunjukkan DPW LDII DIY masuk kategori orange, artinya pelaksanaan pemerataan sudah baik,” ujarnya.
Deby melaporkan, total peserta kegiatan CKG yang dilaksanakan DPD LDII se-DIY mencapai 895 peserta. DPD Kota Yogyakarta sebanyak 200 peserta berlangsung di Griya Mahasiswa Kepuh, DPD Sleman sebanyak 125 peserta berlangsung di Ponpes Mulyo Abadi dan dihadiri Bupati Sleman. Selanjutnya DPD Bantul sebanyak 120 peserta berlangsung di Ponpes Al Barokah, DPD Kulon Progo sebanyak 100 peserta berlangsung di SDIT Bina Mulia Insani, dan DPD Gunungkidul sebanyak 200 peserta berlangsung di Ponpes Al Hadi dan Al Husna.
“DPW LDII DIY juga turut mengadakan CKG dengan melibatkan 150 peserta yang berlangsung di Grha Cendekia, Sleman,” katanya.
Deby menjelaskan, usai menghadiri Rakornas LDII, Biro Penamas LDII DIY langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DIY untuk membangun sinergi pelaksanaan CKG. “Alhamdulillah kami diterima dengan baik. Bahkan kami mendapat kesempatan untuk mengikuti fun run yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Provinsi DIY secara gratis. Ini wujud kolaborasi nyata antara LDII dan pemerintah daerah,” kata Deby.
Pada pemaparan materi, Deby turut menyoroti isu prioritas nasional yaitu pencegahan dan percepatan penurunan stunting, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin bagi warga LDII, terutama kalangan remaja dan pasangan muda. Ia menjelaskan bahwa indikator kesehatan suatu negara dapat dilihat dari tingkat gizi masyarakatnya.
“Pencegahan dan percepatan penurunan stunting ini menjadi skala prioritas nasional. Negara dikatakan sehat dan mampu bersaing di ranah internasional jika tingkat nutrisinya baik. Sebaliknya, jika angka stunting tinggi, artinya kualitas gizi dan kesehatan masyarakat belum optimal,” ujarnya.
Deby menekankan bahwa persoalan stunting bukan hanya terjadi pada bayi, melainkan dimulai jauh sebelum kehamilan. “Faktor penyebabnya sudah ada sejak masa remaja. Banyak remaja putri yang secara fisik terlihat sehat, tapi saat dicek hemoglobinnya (Hb) di bawah standar, bahkan di bawah angka 10. Kondisi seperti ini berisiko jika mereka kelak menikah dan hamil,” jelasnya.

Untuk mencetak generasi penerus (generus) yang unggul, lanjut Deby, calon ibu dan ayah perlu mempersiapkan kondisi gizi sejak masa pra-nikah. “Ketika hamil, tiga bulan pertama harus dicek ke puskesmas secara rutin, dan tiga bulan berikutnya juga harus terus dipantau. Kami di Forum Komunikasi Kesehatan Islam (FKKI) bahkan pernah menerima laporan kasus kematian janin akibat pemeriksaan kehamilan yang tidak rutin,” katanya.
Ia juga menceritakan kisah nyata dari lapangan, di mana seorang ibu muda tidak mengenali tanda-tanda persalinan karena kurangnya edukasi kesehatan. “Itu kejadian nyata. Walaupun sudah dirujuk ke RSUP Sardjito, janin tidak bisa tertolong. Maka edukasi reproduksi dan kehamilan harus dikuatkan,” tegasnya.
Mengacu pada data nasional, angka stunting tahun 2025 masih berada di 19,8 persen dan ditargetkan turun menjadi 14,2 persen pada tahun 2029, hingga 5 persen di tahun 2045. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menetapkan 11 program intervensi yang juga didukung LDII, antara lain: Screening anemia bagi remaja putri, konsumsi tablet tambah darah, pemeriksaan kehamilan rutin (antenatal care), edukasi kesehatan pra-nikah bekerja sama dengan KUA, dan pemberian makanan tambahan ibu hamil.
Selanjutnya, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan, MPASI sehat hingga usia dua tahun, edukasi gizi keluarga, tata laksana balita dengan masalah gizi, dan pemberdayaan kader kesehatan masyarakat.
“ASI eksklusif itu wajib enam bulan. Jangan dulu diberi makanan pendamping seperti ciki-cikian. Berikan makanan alami seperti buah dan sayur,” pungkas Deby.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta