Hari Museum Nasional, LDII DIY Dorong Museum Jadi Ruang Belajar Generasi Muda

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, menjadi salah satu ruang untuk mengenal dan merawat warisan sejarah serta budaya bangsa. (Ilustrasi: ChatGPT/OpenAI)
Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, menjadi salah satu ruang untuk mengenal dan merawat warisan sejarah serta budaya bangsa. (Ilustrasi: ChatGPT/OpenAI)

Yogyakarta (13/10). Peringatan Hari Museum Nasional setiap 12 Oktober menjadi momentum untuk memperkuat peran museum sebagai ruang pembelajaran sejarah, pelestarian budaya, dan pembentukan karakter generasi muda. Museum tidak hanya menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan tantangan kehidupan saat ini dan masa depan.

Ketua DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Atus Syahbudin, mengatakan museum memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif bangsa sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan.

“Sejalan dengan tema Hari Museum Nasional 2026, Museum Sebagai Kebudayaan Soko Guru Bangsa, museum perlu terus dikembangkan sebagai ruang edukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya generasi muda,” ungkap Atus yang juga menjabat Pengurus Badan Musyawarah Musea (BARAHMUS) DIY.

“Museum bukan sekadar tempat menyimpan koleksi atau mengenang peristiwa masa lalu. Museum juga dapat menjadi ruang belajar untuk memahami identitas bangsa, menghargai kearifan lokal, dan mengambil pelajaran dari sejarah untuk menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Atus yang juga akademisi Ilmu Kehutanan Universitas Gadjah Mada itu menilai, museum memiliki peluang besar untuk memperkenalkan hubungan manusia dengan alam. Koleksi dan narasi sejarah dapat menjadi sarana untuk memahami perubahan lingkungan, praktik konservasi, serta pentingnya menjaga sumber daya alam bagi generasi mendatang.

Ia berharap museum semakin terbuka terhadap pendekatan edukasi yang kreatif, pemanfaatan teknologi digital, dan kolaborasi dengan berbagai komunitas. Dengan demikian, museum dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan tidak hanya menjadi tujuan kunjungan wisata atau kegiatan sekolah.

“Warisan budaya dan lingkungan merupakan bagian dari kekayaan yang harus dijaga bersama. Museum dapat membantu masyarakat memahami bahwa pembangunan bukan hanya tentang kemajuan ekonomi, tetapi juga tentang karakter, identitas budaya, dan keberlanjutan kehidupan,” tuturnya.

Upaya tersebut tentunya sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas, kota dan permukiman berkelanjutan, serta perlindungan ekosistem.

Sementara itu, penguatan peran museum juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan Asosiasi Museum Indonesia Wilayah DKI Jakarta–Paramita Jaya, Resita Kuntjoro Jakti, menilai pengelolaan museum saat ini memerlukan beragam kompetensi, mulai dari pemahaman sejarah dan koleksi hingga komunikasi publik, edukasi, pelayanan pengunjung, dan pemanfaatan teknologi.

Menurut Resita, setiap museum memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda. Karena itu, pendidikan dan pelatihan bagi para profesional museum perlu disesuaikan dengan karakter lembaga dan jenis pekerjaan yang ditangani.

“Pemandu museum, misalnya, tidak cukup hanya menguasai informasi koleksi. Mereka juga perlu memahami karakter pengunjung dan mampu menghubungkan cerita sejarah dengan kehidupan sehari-hari agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendekatan edukasi juga perlu disesuaikan dengan kelompok pengunjung. Anak-anak, pelajar, mahasiswa, dan pengunjung dewasa membutuhkan cara penyampaian yang berbeda. Penggunaan storytelling, permainan edukatif, media interaktif, serta pengalaman digital dapat membuat kunjungan museum lebih menarik dan bermakna.

Resita yang juga pengurus Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPP LDII itu menambahkan, pengembangan teknologi perlu tetap disertai ketepatan informasi dan kualitas narasi sejarah. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk membantu pengunjung memahami nilai di balik koleksi museum.

Ia juga mendorong museum menjadi ruang yang inklusif, ramah anak, remaja, penyandang disabilitas, dan berbagai kelompok masyarakat. Evaluasi terhadap pengalaman pengunjung penting dilakukan agar museum terus berkembang sebagai ruang pendidikan publik.

Check Also

LDII DIY

Titik Temu LDII DIY, Dorong 350 Generasi Usia Nikah Taaruf Sesuai Syariah

Sleman (8/10). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar kegiatan untuk generasi muda LDII bertajuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *