
Yogyakarta (25/9) – Kehadiran Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di Kementerian Agama menjadi babak baru dalam perjalanan pendidikan pesantren di Indonesia. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, menyebut keberadaan Ditjen Pesantren menunjukkan perhatian negara terhadap pesantren semakin kuat.
“Pesantren sekarang sudah naik kelas,” ujar Singgih saat memimpin kunjungan kerja spesifik (Kunspik) Komisi VIII DPR RI di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Kamis (24/9/2026).
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk menyerap aspirasi para pengasuh pesantren terkait berbagai persoalan, kebutuhan, dan pengembangan pesantren ke depan. “Kunjungan ini untuk menyerap aspirasi dan mendalami berbagai persoalan yang dihadapi pondok pesantren, khususnya menyusul terbentuknya Ditjen Pesantren di Kementerian Agama,” ungkap Singgih.
Forum tersebut dihadiri perwakilan pondok pesantren se-DIY, termasuk PP Al-Furqon Bantul, PP Al-Mumtaz Gunungkidul, PP Sunan Pandanaran Sleman, PP Maidanul Qur’an Kota Yogyakarta, dan PP Nurul Ummah Dua Kulon Progo.
Dua pesantren yang berada dalam naungan LDII DIY juga turut hadir. Keduanya yakni Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Ar Royan Baitul Hamdi Kota Yogyakarta dan PPM Grha Cendekia Sleman.
Dalam forum tersebut, perhatian tidak hanya tertuju pada penguatan kelembagaan pesantren. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi juga menjadi tantangan yang perlu direspons melalui pembinaan generasi muda.
Kondisi tersebut menjadi relevan bagi pesantren mahasiswa di Yogyakarta. Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah dengan latar belakang, budaya, pemikiran, dan gaya hidup yang beragam.
Pengasuh PPM LDII turut menyampaikan aspirasi dalam forum tersebut. Mereka yakni Ustadz Roshid Kurniawan dari PPM Ar Royan Baitul Hamdi dan Ustadz Endri Sulistyo dari PPM Grha Cendikia.
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, menilai pesantren mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan generasi muda.
Di tengah dinamika kehidupan kampus, PPM dapat menjadi ruang pembinaan yang melengkapi pendidikan perguruan tinggi. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga pendalaman agama, pembentukan karakter, kemandirian, kepedulian sosial, kesehatan, serta keterampilan hidup.
“Ketahanan itu amanah Presiden, Pak Prabowo. Sekolah boarding dan pesantren dapat menjadi benteng dalam menghadapi kemajuan teknologi, termasuk penggunaan HP, derasnya arus informasi dan pergaulan bebas,” ujar dosen Fakultas Kehutanan UGM ini.
Menurutnya, kemajuan teknologi tidak mungkin dihindari. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kemampuan menggunakan teknologi secara cerdas, sekaligus memiliki fondasi agama dan karakter yang kuat.
Atus juga menyoroti pentingnya pembinaan mahasiswa dalam menghadapi dinamika pergaulan dan berbagai isu sosial yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, pendekatan pendidikan perlu berjalan bersama pendampingan, literasi kesehatan, dan pembentukan karakter.

“Mahasiswa perlu dibekali ilmu, akhlak, kesehatan dan kemampuan mengambil keputusan. Perbedaan pandangan yang ditemui di luar pesantren harus dihadapi dengan ilmu dan sikap yang baik,” katanya.
Kehidupan berasrama menjadi salah satu kekuatan pesantren mahasiswa dalam proses tersebut. Mahasiswa belajar hidup bersama, mengatur waktu, menjaga kebersihan, menghormati orang lain, dan membangun tanggung jawab sosial.
Melalui forum tersebut, LDII DIY berharap penguatan perhatian negara terhadap pesantren juga dapat membuka ruang pengembangan pesantren mahasiswa. Terutama dalam memperkuat peran pesantren sebagai ruang pembinaan generasi muda yang mampu menghadapi perkembangan zaman dengan ilmu, karakter, dan nilai agama.
DPW LDII DIY Lembaga Dakwah Islam Yogyakarta