Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI, LDII DIY Dorong Pesantren Perkuat Kesehatan dan Lingkungan

Atus Syahbudin saat memaparkan gagasan pada kunjungan kerja spesifik (Kunspik) Komisi VIII DPR RI di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Kamis (24/9/2026)
Atus Syahbudin saat memaparkan gagasan pada kunjungan kerja spesifik (Kunspik) Komisi VIII DPR RI di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Kamis (24/9/2026)

Yogyakarta (24/9) – Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, mendorong pesantren mahasiswa untuk memperluas perannya dalam membina generasi muda. Pesan tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Kamis (24/9/2026).

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, menyebut keberadaan Ditjen Pesantren menunjukkan perhatian negara terhadap pesantren semakin kuat.

Kunjungan kerja spesifik tersebut menjadi forum untuk menyerap aspirasi dan masukan dari pesantren di DIY. “Pesantren sekarang sudah naik kelas. Kunjungan ini untuk menyerap aspirasi dan mendalami berbagai persoalan yang dihadapi pondok pesantren, khususnya menyusul terbentuknya Ditjen Pesantren di Kementerian Agama,” ungkap Singgih yang memimpin kunjungan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Atus menyampaikan sejumlah gagasan mengenai penguatan pesantren mahasiswa, khususnya pada aspek kesehatan, lingkungan, dan keterampilan.

Menurut Atus, kesehatan santri perlu menjadi bagian dari pembinaan pesantren. Kehidupan komunal membuat kebersihan, sanitasi, pola hidup sehat, kesehatan kulit, kesehatan mental, dan kesehatan reproduksi perlu mendapat perhatian.

Karena itu, ia mendorong penguatan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Pesantren diharapkan menjadi lingkungan pendidikan yang tidak hanya mendukung perkembangan keagamaan, tetapi juga kesehatan dan keamanan mahasiswa.

Atus juga mendorong pesantren mengambil peran dalam pengelolaan lingkungan. Menurutnya, konsep EcoPesantren dapat dikembangkan melalui pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi air dan energi, hingga pertanian.

“Pesantren harus mendukung SDGs. Lingkungan hidup harus menjadi bagian dari pembinaan santri,” ujar Atus.

Ia mencontohkan pengembangan berbasis potensi wilayah. Pesantren di Gunungkidul dapat menjadi tempat pembelajaran pemanenan air hujan, sedangkan pesantren di Kulon Progo dapat mengembangkan komoditas lokal seperti kopi, pala, dan cengkeh.

Sementara itu, PPM di kawasan perkotaan dapat mengembangkan urban farming dengan memanfaatkan lahan terbatas. Gagasan tersebut juga dapat dikembangkan melalui gerakan Pojok Hijau Masjid.

Selain kesehatan dan lingkungan, Atus menilai pesantren mahasiswa perlu menjadi pusat pengembangan keterampilan. Mahasiswa perlu memiliki bekal kemandirian dan produktivitas setelah menyelesaikan pendidikan.

“Pesantren juga harus menjadi pusat keterampilan. Mahasiswa bukan hanya belajar menjadi sarjana, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang mandiri, produktif dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Atus, pesantren mahasiswa dapat menjadi ruang yang mengintegrasikan pendidikan agama, karakter, kesehatan, keterampilan, dan kepedulian lingkungan. Dengan demikian, pesantren dapat ikut mempersiapkan generasi muda yang mampu menghadapi perubahan zaman sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.

Check Also

LDII DIY

LDII DIY Dukung Sangurejo Naik Kelas Menuju ProKlim Lestari

Sleman (20/8). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan dukungan terhadap Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *